CoreWeave, yang bisa dibilang anak kesayangan Nvidia, memiliki tiga pendiri bersama yang sejak perusahaan melantai di bursa pada Maret tahun lalu hingga sekarang telah mencairkan saham senilai total 3,3 miliar dolar AS. Harga saham perusahaan telah anjlok lebih dari 60% dari puncaknya. Bisnisnya tidak rumit: membeli banyak GPU, menyewakan kapasitas komputasi, lalu mengutip biaya sewa. Nvidia sendiri juga merupakan pemegang sahamnya.

Titik baliknya terjadi pada 15 Oktober, ketika Jensen Huang terbang ke Stockholm dan secara terbuka memberikan dukungannya. Ia mengatakan keuangan CoreWeave membaik dan biaya pendanaannya menurun, serta perusahaan tidak membutuhkan Nvidia untuk menjadi penjamin. Setelah pernyataan itu, harga saham yang sempat turun pada awal perdagangan berbalik naik dan ditutup menguat. Namun, pasar obligasi menunjukkan gambaran yang berbeda: imbal hasil obligasi perusahaan yang jatuh tempo pada 2031 sempat melonjak hingga 16%, sementara utangnya yang tercatat di neraca mendekati 50 miliar dolar AS—lebih besar daripada kapitalisasi pasarnya. Di pasar saham, ada yang berebut membeli saat harga memantul, sementara pasar obligasi langsung meminta bunga dua digit. Dari dua harga ini, mana yang sebaiknya dipercaya? Sampai sekarang pun saya belum bisa memastikannya.

Ketiga pendiri itu masih termasuk enam pemegang saham terbesar perusahaan, dengan kepemilikan gabungan sekitar 20%. Perusahaan menjelaskan bahwa penjualan tersebut merupakan bagian dari perencanaan keuangan pribadi yang telah diatur sebelumnya dan juga telah diungkapkan.