Otoritas Perilaku Keuangan Inggris (FCA) berencana mengotomatiskan sebagian besar kegiatan pengawasan dan penegakannya dengan menggunakan AI.

FCA berencana menjadi apa yang disebutnya sebagai “regulator agentik”, dan melakukannya tanpa menyusun aturan khusus AI bagi perusahaan-perusahaan yang diawasinya.

Bagaimana FCA akan menjadi regulator agentik?

Para anggota parlemen di Komite Keuangan diberi tahu dalam sesi dengar pendapat pada 13 Oktober bahwa Otoritas Perilaku Keuangan Inggris akan mengotomatiskan sebagian besar kegiatan pengawasan dan penegakannya.

Jessica Rusu, kepala data, informasi, dan intelijen FCA, mengatakan bahwa otomatisasi operasi regulator itu diperkirakan akan mendeteksi praktik yang merugikan di gerbang proses pemberian izin.

Rusu memberi tahu komite bahwa AI sudah membantu petugas penanganan perkara membaca teks tidak terstruktur dan memproses intelijen dengan lebih cepat dalam proses perizinan, pengawasan, dan penegakan. Namun, ia menjelaskan bahwa untuk saat ini, setiap keputusan masih harus mendapat persetujuan manusia.

Anggota komite John Glen dilaporkan bertanya kepada FCA apakah lembaga itu akan mengadopsi model pengawasan agentik yang direkomendasikan oleh Mills Review. Rusu menjawab bahwa regulator tersebut sedang berupaya menjadi “regulator agentik”.

Mills Review diterbitkan pada Juli 2026 dan dipimpin oleh mantan direktur eksekutif FCA, Sheldon Mills. Tinjauan tersebut merekomendasikan agar FCA membangun model pengawasan agentik berbasis AI, dengan alasan bahwa regulator memerlukan wewenang yang lebih besar. Tinjauan itu juga meminta pihak berwenang untuk mempertimbangkan apakah model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini harus mematuhi aturan keuangan.

CEO Nikhil Rathi menyatakan bahwa salah satu tugas pertama yang diberikan kepada perangkat agentik FCA adalah merapikan laporan regulasi. Perangkat lunak itu kemudian menghubungi kembali perusahaan untuk menandai angka-angka yang tidak sesuai.

Rathi mengatakan tujuannya adalah menghemat waktu para pengawas manusia agar dapat menangani kasus-kasus berisiko lebih tinggi. Namun, ia juga memberi tahu para anggota parlemen bahwa ia belum dapat menyetujui bahwa FCA membutuhkan wewenang lebih besar sebelum lembaga itu sepenuhnya menggunakan wewenang yang sudah dimilikinya.

Ia menyoroti perubahan dalam Financial Services and Markets Bill 2026 yang mengubah kewajiban Financial Ombudsman Service dari “dapat merujuk” menjadi “harus merujuk”. Menurutnya, perubahan itu “dapat menghasilkan antara 1.000 hingga 3.000 rujukan”.

Rusu menyatakan bahwa para pengembang model AI terdepan telah bekerja sama dengan regulator, dengan membagikan detail kerentanan model dan risiko siber yang kemudian diteruskan FCA kepada perusahaan keuangan.

Apakah FCA akan menerapkan aturan untuk AI?

FCA bermaksud mengandalkan kerangka kerja AI yang sudah berlaku, terutama Consumer Duty, yaitu seperangkat standar yang mewajibkan perusahaan memberikan hasil yang baik bagi nasabah ritel.

Dalam kesaksiannya untuk laporan Treasury Committee bulan Januari tentang AI di sektor jasa keuangan, Rusu mengatakan bahwa dengan adanya Senior Managers and Certification Regime dan Consumer Duty, FCA tidak “perlu membuat aturan baru untuk AI”. Inggris tidak memiliki undang-undang khusus tentang AI, dan sekitar 75% perusahaan jasa keuangan di Inggris sudah menggunakan teknologi ini.

Mills Review menyebutkan bahwa hanya 9% konsumen yang menggunakan layanan konsultasi keuangan tradisional, sekitar 900.000 orang dewasa di Inggris tidak memiliki rekening bank, dan sekitar £300 miliar tersimpan di rekening berbunga rendah. Satu dari lima orang dewasa di Inggris bersedia membiarkan AI mengambil keputusan keuangan untuk mereka, sementara sekitar 26% sudah memercayai chatbot serbaguna untuk mendapatkan saran keuangan.

Rathi memberi tahu para anggota parlemen bahwa masih ada perdebatan aktif mengenai apakah chatbot yang hanya memberikan informasi umum, bukan saran untuk orang tertentu, harus diatur. Ia menambahkan bahwa keputusan itu berada di tangan Parlemen.

Secara terpisah, kontrak FCA dengan Palantir untuk menangani kejahatan keuangan telah berakhir.

Rusu dijadwalkan menerbitkan tanggapan FCA terhadap model AI terdepan pada pekan 19 Oktober, bersamaan dengan temuan dari program AI Live Testing yang diumumkan pada April. Kelompok kedua yang menjalani uji coba langsung bersama mitra teknis Advai mencakup Barclays, Experian, Scottish Widows dari Lloyds Banking Group, dan UBS.

Pengujian akan berakhir pada akhir tahun, dengan laporan evaluasi dijadwalkan terbit pada kuartal pertama 2027.

Jika Anda membaca ini, berarti Anda sudah selangkah lebih maju. Teruslah mengikuti perkembangan bersama buletin kami.