Kevin Warsh sedang menghadapi mimpi buruk klasik The Fed saat ini.

Angka PPI hari ini memburuk — PPI utama melonjak menjadi 6,3%, tertinggi dalam 45 bulan. PPI inti juga mencapai level tertinggi dalam 44 bulan. Kemarin, CPI dan CPI inti sama-sama lebih tinggi dari perkiraan. Artinya: inflasi masih belum terkendali.

Biasanya, langkah The Fed dalam situasi ini sederhana — menaikkan suku bunga untuk meredam keadaan. Tapi ada kendalanya.

Pasar tenaga kerja sudah mulai melemah. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Ini bukan keruntuhan, tetapi sinyal jelas bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

Jadi, sekarang The Fed terjebak di antara dua pilihan buruk:

1. Menaikkan suku bunga → Inflasi mungkin mereda, tetapi ada risiko pasar tenaga kerja dan produktivitas ekonomi makin terpukul. Risiko resesi pun meningkat.

2. Menunda atau mempertahankan suku bunga → Pasar tenaga kerja mungkin stabil, tetapi inflasi bisa makin meroket. Jika itu terjadi, pada akhirnya The Fed akan terpaksa menjalankan siklus pengetatan yang lebih agresif — seperti yang kita lihat pada 2022.

Tak satu pun pilihan ini mudah. Inilah definisi dilema kebijakan dalam buku teks. The Fed berusaha memasukkan benang ke lubang jarum dalam gelap, sementara ruang untuk melakukan kesalahan sangatlah tipis.

Warsh dan Powell tahu bahwa apa pun langkah mereka selanjutnya, akan ada pihak yang dirugikan — pekerja atau penabung. Pertanyaannya: dampak buruk mana yang bersedia mereka terima lebih dulu?