Teman-teman, pernah mengalami hal seperti ini? Begitu Bitcoin turun, di forum ramai yang bilang, “Cepat kabur!” dan “Harganya bakal jatuh sampai nol!” Kamu pun ikut panik, lalu karena gugup menjualnya tepat di titik terendah. Eh, baru saja dijual, harganya malah langsung merangkak naik lagi. Rasanya sampai ingin membanting ponsel. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena gegabah. Hari ini kita akan membahas satu pendekatan yang juga diperhatikan institusi dan para pemain lama di dunia on-chain: distribusi biaya on-chain. Kalau kamu memahaminya, kamu akan tahu kapan harus panik dan kapan justru perlu tetap tenang. Inilah pola pikir lain yang perlu tertanam di benak: “institusi menampung, investor ritel tersingkir.”

Mari mulai dari prinsip sederhana. Setiap koin Bitcoin memiliki “harga transaksi terakhir”, yaitu harga saat koin tersebut berpindah ke tanganmu—dengan kata lain, biaya perolehannya. Jika biaya semua koin dirata-ratakan, kita mendapatkan “harga terealisasi” (realized price)—yang bisa dipahami sebagai harga rata-rata beli semua pemegang Bitcoin di pasar. Ibarat saham, kita perlu tahu kira-kira di level mana rata-rata biaya kepemilikan para investor berada.[1]

Melihat rata-rata seluruh pasar saja masih terlalu umum; yang penting adalah membedakannya berdasarkan kelompok. Di data on-chain, “waktu terakhir sebuah koin berpindah” digunakan sebagai penanda: koin yang berpindah dalam 155 hari terakhir disebut milik pemegang jangka pendek—kebanyakan investor ritel yang masuk saat harga sudah tinggi dan mudah panik, alias “tangan lemah”; koin yang tidak berpindah selama lebih dari 155 hari disebut milik pemegang jangka panjang—kebanyakan pemain lama dan institusi dengan modal rendah yang sanggup bertahan, alias “tangan kuat”.[1][2]

Mengapa perlu dibedakan sedetail ini? Karena setiap kali harga anjlok, mereka yang benar-benar panik dan menjual rugi hampir selalu merupakan pemegang jangka pendek. Modal mereka tinggi, jadi harga turun beberapa persen saja sudah tak tertahankan; ketika menjual, mereka pun merugi. Ada indikator on-chain bernama SOPR: jika nilainya di atas 1, berarti orang-orang menjual dengan untung; jika di bawah 1, berarti mereka menjual dengan rugi. Ketika SOPR terus berada di bawah 1, pasar memasuki fase “kapitulasi”—banyak orang tak sanggup bertahan dan menjual di harga terendah.[3]

Sinyal yang lebih ekstrem adalah ketika LTH-SOPR turun di bawah 1, yang berarti para pemegang jangka panjang pun mulai menjual koin dalam keadaan rugi. Ini sangat jarang terjadi di pasar bullish. Dalam sejarah, setiap kali hal ini terjadi, biasanya bertepatan dengan titik terendah besar—Januari 2015, Desember 2018, dan November 2022 semuanya mengikuti pola ini. Awal tahun ini, pemegang jangka panjang pernah mencatat kerugian di atas kertas sekitar 2,4 miliar dolar AS dalam waktu 48 jam. Kolom komentar langsung ramai berdebat: ada yang bilang semuanya sudah berakhir dan harga akan jatuh ke nol, ada juga yang bilang ini adalah aksi bersih-bersih terakhir.[4]

Inilah poin pentingnya: saat investor ritel panik dan menjual rugi, justru itulah kesempatan bagi tangan yang lebih kuat untuk membeli. Koin yang kamu jual diambil oleh mereka yang modalnya sangat rendah dan sanggup bertahan. Inilah juga alasan dana institusional (misalnya ETF spot) berani diam-diam mengakumulasi saat harga anjlok—mereka tidak melihat berapa persen harga turun hari ini, tetapi “apakah tangan yang kuat sedang membeli dan apakah tangan yang lemah sudah keluar”.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan kita sebagai orang biasa? Ingat dua hal praktis. Pertama, jangan samakan “turun” dengan “ambruk”. Ambruk yang sesungguhnya terjadi ketika bahkan para pemegang jangka panjang pun menjual dengan putus asa, ETF terus mengalami arus keluar besar, dan fundamental bermasalah; sementara aksi jual panik pemegang jangka pendek sering kali berarti koin berpindah ke tangan yang lebih kuat. Dalam sejarah, kondisi seperti ini kerap terjadi di area titik terendah sementara. Kedua, jangan mengambil keputusan saat kepanikan sedang memuncak. Lihat data on-chain; jangan cuma fokus pada apakah harga turun hari ini, tetapi lihat “siapa yang menjual dan siapa yang membeli”.[2][3]

Tentu saja, ini bukan berarti kamu harus langsung membeli di harga rendah dengan mengerahkan seluruh modal begitu melihat sinyal. Indikator on-chain hanya sebagai referensi dan tidak bisa memprediksi titik terendah secara tepat; fase kapitulasi bisa berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Pelajaran sesungguhnya adalah: jangan biarkan rasa takut saat harga anjlok mengendalikanmu—pahami siapa yang memegang koin, maka pikiranmu akan lebih tenang. Seperti yang selalu dikatakan, tetaplah tenang saat orang lain panik. Namun, syaratnya kamu benar-benar memahami alasan mereka panik.

Agar hubungan “siapa yang menjual dan siapa yang membeli” di atas lebih mudah dipahami, berikut ilustrasi untuk kalian (sekadar gambaran, bukan angka pasti):

#Strive斥资2.8亿美元增持3311枚BTC

Catatan: Uraian di atas hanyalah interpretasi pribadi terhadap industri dan bukan merupakan saran investasi.

Kalau kamu juga tertarik dengan trading, silakan tinggalkan komentar atau bergabung dengan ruang obrolan untuk berdiskusi, belajar, dan berkembang bersama.