Bukankah Bitcoin disebut-sebut sebagai lindung nilai terhadap inflasi? Mengapa semakin tinggi inflasi, pasar justru semakin khawatir?

CPI AS bulan September yang diumumkan pada 14/10 naik 3,7% secara tahunan, lebih tinggi daripada perkiraan pasar sebesar 3,6%; CPI inti juga naik menjadi 2,6%.

Namun, kali ini ada kontradiksi yang menarik untuk dibahas.

Pasokan BTC dibatasi hingga 21 juta koin. Secara teori, jumlahnya tidak bisa ditambah tanpa batas seperti mata uang fiat.

Jika mengikuti logika ini, saat daya beli dolar menurun, bukankah nilai BTC seharusnya meningkat?

Masalahnya, sifat suatu aset sebagai lindung nilai terhadap inflasi tidak berarti harganya pasti naik pada hari pengumuman inflasi.

Pasar tidak hanya memperdagangkan inflasi, tetapi juga memperhitungkan langkah Federal Reserve selanjutnya untuk mengatasinya.

Ketika CPI lebih tinggi daripada perkiraan, pasar mungkin memperkirakan kenaikan suku bunga akan lebih besar, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar ikut menguat.

Dalam situasi ini, memegang uang tunai atau obligasi jangka pendek menjadi lebih menarik, sementara biaya leverage juga bisa meningkat.

Meski pasokan BTC tetap, harga jangka pendeknya tetap bergantung pada seberapa banyak dana yang bersedia masuk untuk membelinya.

Yang lebih menarik, penelitian akademis juga belum membuktikan bahwa BTC selalu efektif sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa respons BTC terhadap kejutan inflasi berubah-ubah tergantung periode dan indikator yang digunakan. Efek lindung nilai terhadap inflasi terutama tidak stabil setelah pandemi.

Jadi, hal yang benar-benar patut dipikirkan dari CPI kali ini bukanlah, “Apakah narasi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi itu palsu?”

Melainkan, ada dua kekuatan yang sedang saling tarik-menarik:

Di satu sisi, daya beli mata uang fiat menurun; di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi membuat dana di pasar menjadi lebih mahal.

Dalam jangka pendek, suku bunga dan likuiditas menjadi faktor utama. Dalam jangka panjang, kelangkaan baru berpeluang tercermin pada harga. Keduanya tidak bertentangan, tetapi juga tidak menjamin harga pasti naik dalam jangka panjang.

Jika inflasi tetap tinggi dan imbal hasil obligasi terus meningkat, karakter BTC sebagai aset berisiko mungkin akan terus tertekan. Sebaliknya, tekanan ini mungkin mereda jika ekspektasi suku bunga menurun.

Yang benar-benar perlu dibedakan adalah: membeli Bitcoin untuk melindungi diri dari penurunan nilai mata uang dan bertaruh bahwa harganya akan naik setelah pengumuman CPI besok adalah dua jenis transaksi yang sama sekali berbeda.

$BTC #CPI #Bitcoin

📌 BSA-20261014-03