A berkata, “Kamu sudah menjalani lima puluh transaksi berturut-turut tanpa melanggar aturan. Sekarang kamu boleh menambah posisi.”

Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat. Lima puluh transaksi, tepat lima puluh transaksi. Setiap transaksi sebesar 100U, dan semuanya terasa seperti berjalan di atas tali. Sekarang dia menyuruhku menaikkannya menjadi 500U.

“Lima kali?” Suaraku sedikit tercekat.

“Betul. Tapi aturannya tetap sama—kerugian dalam satu transaksi tidak boleh melebihi 1% dari total modal. Dengan 500U dan leverage 5x, kalau stop loss 1%, kerugiannya 25U. Saldo akunmu sekarang 1200U. Kalau rugi 25U, sisanya 1175U. Bisa menerimanya?”

Aku menghitungnya, lalu mengangguk.

“Kalau begitu, buka posisinya.” Dia memutar layar ke arahku. “Untuk transaksi hari ini, kamu yang pilih sendiri. Tapi ingat—ukuran posisi berubah, emosi juga berubah. Saat 100U, tanganmu gemetar. Saat 500U, hatimu yang berdebar.”

Aku memilih level support yang sudah kukenal. Harga menguji titik terendah untuk ketiga kalinya, muncul sumbu bawah pada grafik empat jam, dan volume menyusut sampai titik terendah. Rencananya kutulis dengan sangat terperinci: titik masuk, stop loss, take profit, ukuran posisi—semuanya tercatat jelas di atas kertas. Setelah membacanya, A hanya berkata dua kata: “Jalankan.”

Saat mengeklik tombol itu, rasanya seluruh ruangan mendadak sunyi. Posisi 500U—setiap kali angka di layar bergerak, nilainya 5U. Dulu, saat posisiku 100U, setiap pergerakan hanya 1U. Sekarang, setiap pergerakan terasa seperti ada yang menusukku dengan jarum.

Lima belas menit setelah masuk, harga bergerak turun.

Kerugian mengambangku 8U. Aku menatap layar, jari-jariku terasa gatal. Ada suara di kepalaku yang berteriak, “Pasang stop loss! Jangan bertahan lagi.” Suara lain berkata, “Stop loss dalam rencanamu belum tersentuh. Kenapa panik?”

Dua puluh menit kemudian, kerugian mengambangku mencapai 15U. Tinggal 10U lagi menuju batas stop loss.

Aku berdiri, lalu duduk lagi. Menuang segelas air, tapi tak meminumnya. Jari-jariku berada di atas tetikus, kursor menggantung di tombol “Tutup Posisi”. Cukup sekali klik, penderitaan ini akan berakhir.

Ponselku menyala. A mengirim pesan: “Kalau sekarang kamu menutup posisi, itu bukan karena sinyalnya berubah, tapi karena kamu takut. Rasa takut bukan alasan untuk melakukan transaksi.”

Aku menatap pesan itu, lalu menjauhkan tanganku dari tetikus.

Empat puluh menit kemudian, harga mulai berbalik naik. Perlahan, satu candle hijau, lalu satu lagi. Kerugian mengambangku turun dari 15U menjadi 8U, lalu 3U, kemudian berubah menjadi keuntungan.

Satu setengah jam kemudian, harga melonjak hingga mencapai level take profit-ku. Aku menutup posisi. Untung 62U.

Aku bersandar di kursi, punggungku basah oleh keringat. Posisi 500U itu menghasilkan 62U, lebih banyak daripada total keuntungan dari lima puluh transaksi sebelumnya. Namun, empat puluh menit tadi terasa seperti empat tahun.

A menelepon. “Bagaimana rasanya?”

“Hampir saja aku tak sanggup bertahan,” jawabku jujur.

“Wajar. Semakin besar ukuran posisi, semakin kuat emosinya. Tahu kenapa aku menyuruhmu melakukan lima puluh transaksi dengan posisi 100U lebih dulu? Supaya saat emosimu masih paling ringan, kamu bisa menanamkan aturan sampai ke tulang. Sekarang, saat emosimu berat, aturan itu bisa muncul dengan sendirinya untuk melindungimu.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi ingat—500U bukanlah akhir. Nanti kamu akan membuka posisi 5000U, bahkan 50.000U. Setiap kali menambah ukuran posisi, kamu memulai lagi dari awal. Hari ini kamu berhasil bertahan, bukan berarti lain kali kamu juga bisa. Jadi, mulai besok, teruslah menulis rencana. Anggap setiap transaksi sebagai transaksi pertamamu.”

Aku mengangguk dan membuka buku catatan. Saldo akun: 1262U.

Dari 0,37U menjadi 1262U, hanya butuh empat bulan.

Di luar jendela hari sudah gelap, tetapi layar bersinar terang. Aku mengambil pena dan menulis rencana untuk besok di halaman baru.

Baris pertama: “Posisi 500U, stop loss 1%, jangan melanggar aturan.”

Baris kedua: “Ingat keringat hari ini.”

(Bersambung)