#9月cpi来袭原油美债走势如何
【Pengamatan Lao Jiu】CPI September diumumkan malam ini: minyak mentah atau obligasi pemerintah AS, mana yang lebih dulu menekan pasar?
CPI September AS akan segera diumumkan. Saat ini pasar memperkirakan inflasi umum tahunan naik menjadi 3,6%–3,7%, lebih tinggi daripada 3,4% pada Agustus. Hal penting dari data kali ini bukan hanya apakah angka inflasi meningkat, tetapi juga apakah tekanan akibat kenaikan harga minyak akan memengaruhi penilaian pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Untuk minyak mentah, harga Brent masih berada di atas 100 dolar AS per barel. Risiko pasokan di Timur Tengah membuat pasar energi sulit benar-benar tenang. Kenaikan harga minyak akan menambah tekanan inflasi dan mungkin mempersempit ruang belanja perusahaan maupun konsumen.
Sementara itu, obligasi pemerintah AS mencerminkan ekspektasi yang berbeda. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat naik ke level tinggi belakangan ini, lalu turun pada Selasa. Investor tidak hanya khawatir inflasi kembali meningkat, tetapi juga menilai apakah suku bunga tinggi akan semakin membebani pertumbuhan ekonomi.
Setelah data malam ini dirilis, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
Pertama, apakah CPI umum jauh lebih tinggi dari perkiraan;
Kedua, apakah inflasi inti, yang tidak mencakup pangan dan energi, terus mereda;
Ketiga, bagaimana reaksi imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar.
Jika inflasi melampaui perkiraan, pasar mungkin akan kembali menilai peluang penurunan suku bunga, sementara imbal hasil tinggi juga bisa menekan saham dan aset kripto. Jika inflasi inti terkendali, kekhawatiran pasar terhadap suku bunga mungkin mereda. Namun, harga minyak dan situasi geopolitik masih bisa membuat pasar bergejolak.
Hal yang benar-benar ingin dipastikan pasar kali ini bukan sekadar apakah inflasi kembali naik, melainkan apakah harga minyak yang tinggi akan membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
【Pengamatan Lao Jiu】CPI September diumumkan malam ini: minyak mentah atau obligasi pemerintah AS, mana yang lebih dulu menekan pasar?
CPI September AS akan segera diumumkan. Saat ini pasar memperkirakan inflasi umum tahunan naik menjadi 3,6%–3,7%, lebih tinggi daripada 3,4% pada Agustus. Hal penting dari data kali ini bukan hanya apakah angka inflasi meningkat, tetapi juga apakah tekanan akibat kenaikan harga minyak akan memengaruhi penilaian pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Untuk minyak mentah, harga Brent masih berada di atas 100 dolar AS per barel. Risiko pasokan di Timur Tengah membuat pasar energi sulit benar-benar tenang. Kenaikan harga minyak akan menambah tekanan inflasi dan mungkin mempersempit ruang belanja perusahaan maupun konsumen.
Sementara itu, obligasi pemerintah AS mencerminkan ekspektasi yang berbeda. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat naik ke level tinggi belakangan ini, lalu turun pada Selasa. Investor tidak hanya khawatir inflasi kembali meningkat, tetapi juga menilai apakah suku bunga tinggi akan semakin membebani pertumbuhan ekonomi.
Setelah data malam ini dirilis, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
Pertama, apakah CPI umum jauh lebih tinggi dari perkiraan;
Kedua, apakah inflasi inti, yang tidak mencakup pangan dan energi, terus mereda;
Ketiga, bagaimana reaksi imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar.
Jika inflasi melampaui perkiraan, pasar mungkin akan kembali menilai peluang penurunan suku bunga, sementara imbal hasil tinggi juga bisa menekan saham dan aset kripto. Jika inflasi inti terkendali, kekhawatiran pasar terhadap suku bunga mungkin mereda. Namun, harga minyak dan situasi geopolitik masih bisa membuat pasar bergejolak.
Hal yang benar-benar ingin dipastikan pasar kali ini bukan sekadar apakah inflasi kembali naik, melainkan apakah harga minyak yang tinggi akan membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.