Bitcoin sempat melonjak lalu terkoreksi. Mengapa harga minyak menjadi faktor yang memengaruhi pasar kripto?

Untuk memahami pergerakan Bitcoin, terkadang kita perlu mencari petunjuk di luar pasar kripto.

Pada tanggal 12, BTC sempat menyentuh US$84.254, lalu turun lebih dari 2% dari level tertingginya. Pada periode yang sama, harga minyak mentah Brent sempat naik ke US$107,25, mendekati level tertinggi dalam sebulan. Penurunan yang dimaksud dihitung dari puncak intraday, bukan penurunan sepanjang hari.

Kenaikan harga minyak dan penurunan harga kripto tidak bisa dianggap selalu berbanding lurus. Namun, jika harga energi terus naik, tekanan inflasi dapat meningkat dan pasar mungkin kembali menilai berapa lama suku bunga akan bertahan di level tinggi. Bagi Bitcoin, perubahan biaya pendanaan dan selera risiko sama-sama dapat memengaruhi minat beli. Data inflasi AS juga akan dirilis pekan ini. Diperlukan lebih banyak bukti untuk mengetahui apakah rebound jangka pendek ini bisa berlanjut.

Menurut saya, hal yang perlu dicermati dalam pergerakan kali ini bukan hanya “apakah Bitcoin berhasil menembus US$84.000”, tetapi juga apakah kenaikan harga minyak berlanjut dan apakah data inflasi mengubah ekspektasi suku bunga. Satu kali lonjakan maupun penurunan belum cukup untuk mengonfirmasi tren.

Hal ini juga membuat alat lintas pasar memiliki nilai tambah sebagai sarana pemantauan. Misalnya, BiyaPay, platform terpadu untuk alokasi aset global, menyediakan layanan aset digital, saham AS dan Hong Kong, serta penukaran mata uang. Bagi mereka yang memantau pasar-pasar tersebut sekaligus, layanan yang terpusat dapat mengurangi kebutuhan berpindah-pindah akun. Memperhatikan perubahan di luar harga kripto membantu kita memahami volatilitas, tetapi kemudahan alat tidak dapat menggantikan penilaian terhadap volatilitas.

Artikel ini merupakan pandangan pribadi dan bukan rekomendasi investasi.

#BTC #BiyaPay #油价