1. Bitcoin melemah, tekanan pasar memicu likuidasi besar

cryptonews.com
Berita pasar · 12–13 Oktober 2026
Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan turun di bawah US$82.000 pada 12 Oktober 2026. Pergerakan tersebut diikuti likuidasi posisi perdagangan kripto sekitar US$488,61 juta, yang sebagian besar berasal dari posisi long, menurut laporan Pluang.
Apa penyebabnya?
Kekhawatiran investor terhadap inflasi Amerika Serikat.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga energi.
Arus keluar dana dari produk investasi ETF Bitcoin dan Ethereum.
Tekanan tersebut dapat membuat investor mengurangi risiko dan menjual aset kripto. Namun, faktor-faktor ini tidak menjamin harga akan terus turun.
Masalah utamanya: likuidasi dapat memperbesar pergerakan harga. Ketika banyak posisi perdagangan ditutup secara otomatis, tekanan jual bisa meningkat dan memicu volatilitas lanjutan.
2. Masalah keamanan XRP Ledger: celah yang berpotensi serius

Pada 12 Oktober, pengembang XRP Ledger membela keputusan mereka menerapkan perbaikan keamanan darurat untuk sebuah celah yang secara teori dapat memungkinkan pembuatan XRP melebihi batas pasokannya. Mereka menilai menunggu proses pemungutan suara validator yang normal dapat meningkatkan risiko apabila celah tersebut dieksploitasi.
Mengapa ini penting?
Celah pada protokol dapat mengganggu kepercayaan pengguna.
Perbaikan darurat membutuhkan koordinasi yang baik antara pengembang dan validator.
Ketidakpastian keamanan dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset terkait.
Perlu dicatat, laporan tersebut membahas celah yang diperbaiki; bukan bukti bahwa XRP tambahan benar-benar telah berhasil dicetak.
3. Dugaan pencurian aset kripto senilai lebih dari US$86 juta

yellow
Laporan yang terbit pada 9–12 Oktober menyoroti penyelidikan atas dugaan pencurian aset kripto yang nilainya dapat melampaui US$86 juta. Kasus tersebut berkaitan dengan perangkat dompet perangkat keras Ledger dan dugaan adanya perangkat yang telah dimodifikasi tanpa izin. Penyelidikan masih berlangsung, dan jumlah kerugian belum dikonfirmasi secara independen oleh Ledger.
Masalah yang perlu diperhatikan:
Perangkat atau rantai distribusi yang tidak aman dapat menimbulkan risiko.
Pemilik aset perlu melindungi frasa pemulihan (recovery phrase) dan kunci privat.
Klaim pemulihan dana dari pihak tidak dikenal perlu dicurigai, terutama jika meminta biaya di muka.
Kasus ini menunjukkan bahwa keamanan kripto tidak hanya bergantung pada blockchain, tetapi juga pada perangkat dan cara pengguna menyimpan asetnya.
4. ETF kripto mengalami arus keluar dana

news.finst
Produk investasi ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penarikan dana gabungan sekitar US$1,22 miliar selama pekan yang berakhir 9 Oktober 2026. Di sisi lain, produk investasi XRP justru menarik dana masuk.
Masalahnya, arus keluar ETF dapat mencerminkan berkurangnya minat investor institusional terhadap produk tersebut. Namun, angka ini tidak berarti seluruh investor sedang menjual kripto secara langsung.
Investor perlu membedakan arus dana ETF, volume perdagangan di bursa, dan perubahan harga karena ketiganya mengukur hal yang berbeda.
5. Regulasi kripto Indonesia semakin diperhatikan
Di Indonesia, pengawasan aset kripto berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah masa transisi dari Bappebti berakhir pada Januari 2026. OJK juga memberlakukan aturan pelaksanaan perdagangan aset keuangan digital melalui PADK Nomor 3 Tahun 2026 mulai 1 September 2026.
Hal yang perlu diperhatikan pengguna:
Pastikan penyedia layanan memiliki izin yang sesuai.
Pahami biaya transaksi dan ketentuan penarikan dana.
Waspadai pihak yang menjanjikan keuntungan tetap atau tanpa risiko.
Periksa informasi aset dan ketentuan perdagangan sebelum mengambil keputusan.
Peraturan yang lebih jelas dapat membantu perlindungan konsumen, tetapi tidak menghilangkan risiko perubahan harga maupun kehilangan aset.
Sumber resmi: Otoritas Jasa Keuangan — Situs resmi OJK.