Bank Sentral Jepang (BOJ) pada hari Selasa merilis indeks harga barang korporasi (CGPI) September, yang naik 6,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun angka ini melandai dari 7,6% pada Agustus dan lebih rendah daripada perkiraan 7,6%, tekanan inflasi grosir di negara tersebut masih bertahan pada tingkat yang sangat tinggi.

Yang patut diperhatikan, indeks harga impor dalam yen melonjak 24,5% pada September. Pelemahan JPY yang berkepanjangan secara langsung mendorong biaya bahan baku dan bahan bakar, semakin memperkuat kemungkinan BOJ akan segera perlu menaikkan suku bunga lagi untuk mengendalikan risiko nilai tukar.

Langkah ini memicu gelombang kehati-hatian di pasar keuangan kawasan Asia, terutama setelah indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 4,00% selama sesi perdagangan. Imbal hasil obligasi pemerintah cenderung naik tipis di tengah prospek penarikan berkelanjutan arus dana murah dari transaksi Yen carry trade.

Bagi pasar kripto, tekanan pengetatan moneter dari BOJ biasanya memicu gejolak tajam terhadap $BTC karena likuiditas global menyusut. Investor sebaiknya bersiap menghadapi volatilitas jangka pendek ketika modal spekulatif mengurangi leverage untuk melindungi diri dari risiko makroekonomi. 📉

#BOJ #Inflation #EkonomiMakro