Penurunan serentak aset kripto disebabkan oleh kombinasi tekanan ekonomi makro yang memengaruhi selera risiko global, serta faktor negatif khusus pada masing-masing mata uang.
๐ Faktor utama: tekanan ekonomi makro
ยท Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS: imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun melampaui 5,3% (level tertinggi sejak 2007), mendorong investor menarik dana dari aset berisiko tinggi demi mencari imbal hasil yang terjamin.
ยท Ekspektasi kenaikan suku bunga dan data inflasi: Kemungkinan Federal Reserve AS kembali menaikkan suku bunga semakin besar, sementara pasar menantikan data inflasi (CPI), sehingga kehati-hatian meningkat.
ยท Risiko geopolitik dan volatilitas pasar energi: Ketegangan di Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak mendorong investor beralih ke aset-aset aman, menjauhi aset digital.
ยท Gelombang likuidasi (Liquidations): Penurunan harga menyebabkan likuidasi posisi terbuka senilai 5,5 miliar dolar, sehingga memperparah penurunan.
๐ Tinjauan faktor khusus tiap aset kripto
ยท NEAR (turun 12,98%): Setelah melonjak tajam sebesar 120%, NEAR mengalami aksi ambil untung besar-besaran yang menyebabkan likuidasi posisi long senilai 20 juta dolar. Peretasan "NEAR Intents" yang mengakibatkan kerugian 3,8 juta dolar juga berdampak pada kepercayaan.
ยท SOL (turun 4,46%): SOL melemah akibat penurunan cadangan stablecoin di jaringannya sebesar 6,4%, serta terhentinya pertumbuhan arus masuk
ETF-nya.
ยท ETH (turun 2,73%): ETF spot ETH mencatat arus keluar bersih sebesar 5,42 miliar dolar dalam satu minggu. Sinyal jual kuat juga muncul dari dompet-dompet penambangan besar.
ยท BNB (turun 2,21%): Meski pembakaran token senilai 1,63 miliar dolar dilakukan untuk mendukung kelangkaan, harga tetap tidak mampu menembus level resistansi, sementara para trader masih berhati-hati.
ยท BTC dan AGPUB: Keduanya turun mengikuti tren pasar secara umum. Bitcoin terdampak kenaikan imbal hasil obligasi dan penarikan dana institusi dari ETF.

