Namaku Si Investor Receh. Bukan karena aku benar-benar suka jadi sasaran, tapi setiap kali pasar bergerak, aku selalu merasa kali ini akhirnya giliranku untuk bangkit.

Saat baru mulai terjun ke dunia kripto, aku cuma ingin mendapatkan sedikit uang tambahan. Melihat orang lain memamerkan tangkapan layar keuntungan—modal berlipat ganda dalam tiga hari, balik modal dalam sepuluh hari, ganti mobil dalam sebulan—rasanya aku jadi gatal ingin ikut. Jadi, dengan uang tabungan yang kukumpulkan, aku memberanikan diri membeli untuk pertama kalinya. Baru saja beli, harganya naik 2%, aku girang bukan main, seolah-olah baru saja menemukan rumus rahasia kekayaan. Harganya turun 3%, aku pun mulai meragukan hidup. Belakangan baru kusadari, hal yang paling mahir dilakukan pasar adalah menyiramkan air dingin saat kamu baru mulai percaya diri, lalu memunculkan lilin hijau panjang saat kamu sudah bersiap menjual rugi.

Aku selalu bilang hanya berinvestasi berdasarkan nilai, tapi begitu membuka aplikasi, hal pertama yang kulihat tetap daftar koin dengan kenaikan dan penurunan terbesar. Koin mana pun yang naik cepat, langsung kupikir pasti punya cerita; koin mana pun yang jatuh tajam, kupikir mungkin harganya ditekan secara tidak adil. Saat seseorang di grup bilang, “Sebentar lagi terbang,” aku takut ketinggalan; saat ada yang bilang, “Bakalan jadi nol,” aku takut nyangkut. Nilai investasiku tidak besar, tapi emosiku seperti naik wahana dengan leverage sepuluh kali lipat.

Yang paling menyakitkan bukan kehilangan uang, melainkan melihat koin yang kujual malah naik. Saat menjual, biasanya aku berkata pada diri sendiri: amankan keuntungan, disiplin nomor satu. Tapi begitu harganya naik, aku mulai mengulang-ulang, “Coba kemarin tidak kujual.” “Coba kutunggu sebentar lagi.” “Coba dulu kubeli lebih banyak.” Tapi kalau benar-benar membelinya lagi, aku malah takut masuk di harga tertinggi. Akhirnya aku cuma bisa menatap candle yang terus naik, seperti melihat mantan makin bahagia: di mulut mengucapkan selamat, di hati penuh penyesalan.

Saat nyangkut, aku malah jadi sangat setia. Awalnya hanya ingin trading jangka pendek, tapi karena harganya terus turun, jadinya investasi jangka panjang; awalnya cuma ingin memegangnya beberapa hari, lalu mulai mempelajari white paper proyek, perkembangan ekosistem, dan wawancara pendirinya, berusaha meyakinkan diri bahwa aku bukan nyangkut, melainkan sedang “menyiapkan diri untuk masa depan”. Padahal jauh di dalam hati, aku tahu betul: aku bukan teguh pada pendirian, aku hanya tak rela mengakui bahwa penilaianku keliru.

Kadang aku juga menyalahkan pasar, merasa bandar mengincar posisiku. Kenapa setiap kali aku beli harganya turun, dan setiap kali aku jual harganya naik? Belakangan baru kusadari bahwa pasar sama sekali tidak mengenalku. Harga tidak akan naik karena harapanku, dan tidak akan turun karena ketakutanku. Yang benar-benar membuatku menderita bukan cuma fluktuasi, melainkan karena aku selalu ingin menyelesaikan semua kecemasan lewat satu transaksi: ingin cepat untung, ingin membuktikan bahwa aku pintar, dan ingin mendapatkan kembali semua uang yang pernah hilang.

Namun pasar bukanlah tempat untuk mengabulkan harapan. Pasar tidak memberi hadiah pada tindakan impulsif, juga tidak bersimpati pada keraguan. Di balik setiap candle yang naik, ada risiko; dan setiap penurunan belum tentu berarti peluang. Perlahan-lahan aku mulai belajar untuk mengakui: aku tidak tahu apakah besok harga akan naik atau turun; aku juga tidak harus menangkap setiap peluang. Daripada mengejar kisah orang lain yang mendadak kaya, sebaiknya aku lebih dulu mengendalikan diri, menjaga modal, dan tidak membiarkan emosi mengambil keputusan untukku.

Aku investor pemula, tapi aku tak ingin selamanya hanya menjadi investor pemula. Mungkin pertumbuhan sejati bukanlah akhirnya berhasil menemukan koin yang naik seratus kali lipat, melainkan tetap tahu alasan membeli, alasan menjual, dan kapan harus berhenti di tengah hiruk-pikuk pasar.