#FSBPeringatkanAturanStablecoinLintasBatasMasihBelumBerkembang
Badan Global yang Bertanggung Jawab atas Stabilitas Keuangan Baru Saja Mengakui Bahwa Belum Ada Kesepakatan soal Aturan Stablecoin 🌍😂
Senin, 12 Oktober. Ketua FSB Andrew Bailey menulis langsung kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 menjelang pertemuan hari Kamis. Ia menyatakan bahwa pengawasan stablecoin lintas batas dan kerangka pengelolaan krisis “masih belum matang atau belum dikembangkan.” Tinjauan FSB sendiri pada 2025 menemukan bahwa hanya 11 dari 28 yurisdiksi yang disurvei benar-benar telah merampungkan aturan stablecoin. Tujuh belas negara masih mencari tahu soal ini, sementara stablecoin sudah memindahkan miliaran lintas batas setiap hari, dengan atau tanpa aturan. 💎
Berikut risiko nyata yang perlu dipahami 🧠
Guncangan pada stablecoin dapat memaksa penerbit menjual aset cadangan dan memicu penarikan simpanan bank, sehingga tekanan merembet langsung ke pasar tradisional alih-alih hanya terbatas di dunia kripto. Risiko yang lebih besar ada pada stablecoin dengan banyak penerbit: permintaan penebusan dapat sepenuhnya tertuju kepada satu penerbit, sementara cadangan pendukung milik penerbit tersebut tersebar di beberapa yurisdiksi berbeda. Saat krisis, entitas yang sebenarnya bertanggung jawab mungkin tidak dapat mengakses dengan cepat aset-aset yang seharusnya menjadi jaminan. 😂
Perlu diingat, ini sekadar rekomendasi, bukan hukum 🎯
FSB tidak punya wewenang untuk menegakkan aturan. Ini adalah badan koordinasi yang meminta G20 untuk bertindak. Posisi dasarnya mirip dengan yang dihadapi The Fed di dalam negeri: masih menyusun aturan untuk GENIUS Act, yang telah kita bahas beberapa minggu lalu. Setiap tingkat pemerintahan, baik global maupun nasional, menyusun buku aturan dengan kecepatan lamban yang kira-kira sama, sementara pasar yang hendak mereka atur sudah berlari jauh di depan. 💡
Kesimpulan terus terang 🚀
Peringatan ini nyata. Namun, cara dan wewenang untuk benar-benar mengatasinya masih dicari.
$USDC
$BTC
Badan Global yang Bertanggung Jawab atas Stabilitas Keuangan Baru Saja Mengakui Bahwa Belum Ada Kesepakatan soal Aturan Stablecoin 🌍😂
Senin, 12 Oktober. Ketua FSB Andrew Bailey menulis langsung kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 menjelang pertemuan hari Kamis. Ia menyatakan bahwa pengawasan stablecoin lintas batas dan kerangka pengelolaan krisis “masih belum matang atau belum dikembangkan.” Tinjauan FSB sendiri pada 2025 menemukan bahwa hanya 11 dari 28 yurisdiksi yang disurvei benar-benar telah merampungkan aturan stablecoin. Tujuh belas negara masih mencari tahu soal ini, sementara stablecoin sudah memindahkan miliaran lintas batas setiap hari, dengan atau tanpa aturan. 💎
Berikut risiko nyata yang perlu dipahami 🧠
Guncangan pada stablecoin dapat memaksa penerbit menjual aset cadangan dan memicu penarikan simpanan bank, sehingga tekanan merembet langsung ke pasar tradisional alih-alih hanya terbatas di dunia kripto. Risiko yang lebih besar ada pada stablecoin dengan banyak penerbit: permintaan penebusan dapat sepenuhnya tertuju kepada satu penerbit, sementara cadangan pendukung milik penerbit tersebut tersebar di beberapa yurisdiksi berbeda. Saat krisis, entitas yang sebenarnya bertanggung jawab mungkin tidak dapat mengakses dengan cepat aset-aset yang seharusnya menjadi jaminan. 😂
Perlu diingat, ini sekadar rekomendasi, bukan hukum 🎯
FSB tidak punya wewenang untuk menegakkan aturan. Ini adalah badan koordinasi yang meminta G20 untuk bertindak. Posisi dasarnya mirip dengan yang dihadapi The Fed di dalam negeri: masih menyusun aturan untuk GENIUS Act, yang telah kita bahas beberapa minggu lalu. Setiap tingkat pemerintahan, baik global maupun nasional, menyusun buku aturan dengan kecepatan lamban yang kira-kira sama, sementara pasar yang hendak mereka atur sudah berlari jauh di depan. 💡
Kesimpulan terus terang 🚀
Peringatan ini nyata. Namun, cara dan wewenang untuk benar-benar mengatasinya masih dicari.
$USDC
$BTC