Serangan Houthi Membuat Risiko di Timur Tengah Tetap Menjadi Sorotan

Harga minyak turun meskipun kekhawatiran keamanan meningkat setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi pada akhir pekan. Insiden tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik di Yaman dapat mengancam stabilitas kawasan, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran penting.

Gangguan apa pun yang memengaruhi produksi atau ekspor minyak Saudi dapat memperketat pasokan global dan mendorong harga minyak mentah naik. Para pedagang juga memantau risiko di sekitar titik sempit maritim utama, termasuk Selat Hormuz, tempat gangguan dapat berdampak pada pengiriman minyak dan bahan bakar internasional.

Perkembangan terbaru ini menggambarkan kekuatan yang saling berlawanan di pasar: ekspektasi meningkatnya ketersediaan bahan bakar Rusia menekan harga, sementara risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah menopang harga.
Trump mengumumkan usulan gencatan senjata pada Minggu, 11 Oktober, dengan mengatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk berhenti menyerang fasilitas energi satu sama lain. Pengumuman tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa kerusakan pada kilang, pembangkit listrik, dan infrastruktur energi lainnya dapat berkurang sehingga pasokan bisa pulih.

Namun, kesepakatan itu masih belum pasti. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Kyiv mendukung penghentian serangan, tetapi menegaskan bahwa Rusia juga harus mematuhinya. Pejabat Ukraina melaporkan bahwa serangan Rusia terhadap infrastruktur energi terus berlanjut setelah pengumuman tersebut, sementara Moskow belum segera mengonfirmasi keikutsertaannya.

#OilMarket