Lama berkecimpung di dunia kripto, kamu akan menyadari satu aturan bertahan hidup—yang paham pasti paham.

Orang yang tinggal di dalam negeri, tapi punya banyak koin di akun—
keluar pamer, datang ke konferensi, ditemani model muda, karaoke di tempat komersial, bepergian ke luar negeri: semuanya disamarkan.

Lihat saja Xingchen, setiap kali muncul selalu disamarkan. Pemahaman seperti ini setidaknya setinggi gedung tiga atau empat lantai.

Sebaliknya, mereka yang setiap hari tampil di depan kamera, sementara masih tinggal di dalam negeri:
entah tidak takut mati, atau memang tak punya banyak koin di kantong.
Yang tak punya uanglah yang perlu menampakkan wajah; yang punya uang takut jadi sasaran.

Lalu lihat mereka yang setiap hari bepergian ke luar negeri dan pamer kehidupan serta jam tangan—
mereka sudah lama pindah ke Malaysia. Pemahaman seperti ini bahkan tak cukup diukur dengan gedung sepuluh lantai.

Soal mereka yang pura-pura kaya dan setiap hari menampakkan wajah:
sekali saja kamu melaporkan mereka, mereka bisa kena masalah besar.
Coba pikir, negara sedang butuh uang. Periksa pajak, periksa sumber dana—sekali diperiksa, pasti ketahuan.

Pokoknya, aku memang orang seperti ini:
melihat orang lain mendapat komisi referral sampai berlimpah, aku iri setengah mati.
Tapi meski iri, mulutku tetap rapat terkunci.

Pelajaran pertama dunia kripto: cari untung diam-diam.
Pelajaran kedua: menyamarkan identitas adalah bentuk penghormatan paling mendasar terhadap dompetmu sendiri.