Beberapa ponsel lama di laci itu sebenarnya sudah jarang saya nyalakan. Layarnya tergores, baterainya menggembung, sistemnya lambat—sudah lama tersisih ke sudut oleh ponsel baru. Baru-baru ini saya tiba-tiba berpikir, mungkin ponsel-ponsel itu tak harus terus berdebu.
Yang dilakukan @Acurast cukup sederhana: mengubah ponsel pintar yang sudah ada di seluruh dunia menjadi jaringan komputasi yang dapat diverifikasi. Pengembang tak perlu membeli server atau menyiapkan infrastruktur sendiri terlebih dahulu. Setelah mengirimkan tugas, jaringan akan mencocokkannya berdasarkan kinerja CPU, memori, dan penyimpanan perangkat. Ponsel sudah memiliki lingkungan eksekusi tepercaya yang terisolasi oleh perangkat keras. Tugas bisa dijalankan di dalamnya, sehingga data sensitif untuk inferensi atau skrip otomatisasi tak perlu dibuka begitu saja.
Bagi pengembang, hambatannya jauh lebih rendah: mereka bisa memanfaatkan komputasi terdistribusi tanpa membangun pusat data sendiri. Bagi masyarakat umum, ponsel lama cukup dicolokkan ke listrik dan tersambung ke internet. Waktu luangnya bisa digunakan untuk menyumbangkan sedikit daya pemrosesan dan mendapatkan $ACU sebagai imbalannya. Hubungan kedua pihak bukan sekadar “menyumbangkan perangkat lalu mendapat hadiah”—pengembang harus membayar saat menggunakan daya komputasi, dan biaya tersebut akan langsung dibakar. Semakin nyata permintaannya, semakin besar pula jumlah yang dibakar. Skalanya sudah cukup besar: ratusan ribu perangkat, lebih dari seratus negara, dan total volume transaksi mencapai miliaran. Jaringan utama juga sudah beroperasi selama beberapa waktu.
Tentu saja, banyaknya perangkat yang terhubung bukan berarti orang-orang benar-benar terus membayar untuk menggunakannya. Angka transaksi yang terlihat bagus tetap perlu ditinjau bersama jumlah tugas yang berjalan stabil, seberapa banyak daya komputasi yang benar-benar digunakan, dan apakah pengembang bersedia membayar berulang kali. Pasokan awal $ACU berjumlah satu miliar token, dan setiap tahun ada pula token baru yang dirilis melalui inflasi. Apakah jumlah yang dibakar bisa mengimbanginya pada akhirnya tetap bergantung pada permintaan nyata. Ponsel yang menganggur bukan berarti bisa menghasilkan uang tanpa usaha. Spesifikasi, lama waktu online, dan kestabilan jaringan semuanya memengaruhi pendapatan. Menjalankan ponsel lama yang tak menyimpan aset pribadi tentu lebih menenangkan daripada memakai ponsel utama sehari-hari.
Hal menarik dari ide ini bukanlah munculnya satu proyek token lagi, melainkan cara mengatur kembali perangkat keras yang sudah ada untuk mengisi kekurangan daya komputasi dalam tugas AI dan otomatisasi. Ponsel tak harus lagi sekadar menjadi perangkat konsumsi, dan pengembang punya pilihan lain selain membangun pusat data sendiri. Jika pasokan dan permintaan bisa bertemu, setidaknya ponsel-ponsel lama di dalam laci itu tak harus dianggap sebagai sampah elektronik saja.
Yang dilakukan @Acurast cukup sederhana: mengubah ponsel pintar yang sudah ada di seluruh dunia menjadi jaringan komputasi yang dapat diverifikasi. Pengembang tak perlu membeli server atau menyiapkan infrastruktur sendiri terlebih dahulu. Setelah mengirimkan tugas, jaringan akan mencocokkannya berdasarkan kinerja CPU, memori, dan penyimpanan perangkat. Ponsel sudah memiliki lingkungan eksekusi tepercaya yang terisolasi oleh perangkat keras. Tugas bisa dijalankan di dalamnya, sehingga data sensitif untuk inferensi atau skrip otomatisasi tak perlu dibuka begitu saja.
Bagi pengembang, hambatannya jauh lebih rendah: mereka bisa memanfaatkan komputasi terdistribusi tanpa membangun pusat data sendiri. Bagi masyarakat umum, ponsel lama cukup dicolokkan ke listrik dan tersambung ke internet. Waktu luangnya bisa digunakan untuk menyumbangkan sedikit daya pemrosesan dan mendapatkan $ACU sebagai imbalannya. Hubungan kedua pihak bukan sekadar “menyumbangkan perangkat lalu mendapat hadiah”—pengembang harus membayar saat menggunakan daya komputasi, dan biaya tersebut akan langsung dibakar. Semakin nyata permintaannya, semakin besar pula jumlah yang dibakar. Skalanya sudah cukup besar: ratusan ribu perangkat, lebih dari seratus negara, dan total volume transaksi mencapai miliaran. Jaringan utama juga sudah beroperasi selama beberapa waktu.
Tentu saja, banyaknya perangkat yang terhubung bukan berarti orang-orang benar-benar terus membayar untuk menggunakannya. Angka transaksi yang terlihat bagus tetap perlu ditinjau bersama jumlah tugas yang berjalan stabil, seberapa banyak daya komputasi yang benar-benar digunakan, dan apakah pengembang bersedia membayar berulang kali. Pasokan awal $ACU berjumlah satu miliar token, dan setiap tahun ada pula token baru yang dirilis melalui inflasi. Apakah jumlah yang dibakar bisa mengimbanginya pada akhirnya tetap bergantung pada permintaan nyata. Ponsel yang menganggur bukan berarti bisa menghasilkan uang tanpa usaha. Spesifikasi, lama waktu online, dan kestabilan jaringan semuanya memengaruhi pendapatan. Menjalankan ponsel lama yang tak menyimpan aset pribadi tentu lebih menenangkan daripada memakai ponsel utama sehari-hari.
Hal menarik dari ide ini bukanlah munculnya satu proyek token lagi, melainkan cara mengatur kembali perangkat keras yang sudah ada untuk mengisi kekurangan daya komputasi dalam tugas AI dan otomatisasi. Ponsel tak harus lagi sekadar menjadi perangkat konsumsi, dan pengembang punya pilihan lain selain membangun pusat data sendiri. Jika pasokan dan permintaan bisa bertemu, setidaknya ponsel-ponsel lama di dalam laci itu tak harus dianggap sebagai sampah elektronik saja.