Dulu, saat menilai robot, kita biasanya melihat berapa banyak gerakan yang bisa dilakukannya, seberapa lancar gerakannya, dan seberapa kuat performa perangkat kerasnya. Namun, menurut saya, semua itu hanyalah kinerja yang terlihat di permukaan. Yang benar-benar menentukan potensi perkembangan robot di masa depan adalah kemampuannya untuk terus berkembang setiap kali menjalankan tugas.

Sebab, dunia nyata jauh lebih rumit daripada laboratorium. Tugas mengambil benda mungkin tampak sederhana, tetapi melibatkan beberapa tahapan, seperti mengenali objek, menentukan posisi, merencanakan gerakan, dan mengendalikan kekuatan. Penyimpangan pada satu tahapan saja bisa menyebabkan tugas gagal.

Jika tingkat keberhasilan robot dalam menyelesaikan tugas adalah 80%, berarti dari 100 kali percobaan independen, rata-rata akan ada 20 kali kegagalan. Angka ini hanyalah contoh hipotetis untuk menjelaskan maksudnya, bukan hasil pengujian Axis.

Hal yang benar-benar penting untuk diperhatikan adalah: apakah 20 kegagalan itu bisa membantu sistem menemukan masalah? Setelah strateginya disesuaikan, bisakah tingkat keberhasilannya meningkat?

Inilah bagian paling menarik dari Physical AI.

Salah satu alasan penting saya mengikuti @axisrobotics adalah siklus pelatihan dan umpan balik yang dikembangkannya:

Demonstrasi manusia → pembuatan strategi → eksekusi oleh robot → umpan balik hasil → optimasi strategi → eksekusi ulang.

Kelihatannya memang hanya sebuah siklus, tetapi yang ditentukan oleh siklus ini adalah apakah robot bisa beralih dari pelatihan satu kali ke proses iterasi berkelanjutan.

Misalnya, jika tugas mengambil benda yang sama perlu dilatih berulang kali sebanyak 100 kali, yang benar-benar penting bukan sekadar menyelesaikan 100 kali percobaan itu, melainkan apakah setiap percobaan memberikan informasi yang berguna. Gerakan mana yang lebih stabil? Kondisi lingkungan seperti apa yang lebih sering menyebabkan kegagalan? Strategi seperti apa yang bisa beradaptasi dengan berbagai jenis objek?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini bisa dianalisis melalui data, pelatihan berpeluang beralih dari sekadar menambah jumlah percobaan menjadi optimasi yang lebih terarah.

Tentu saja, bertambahnya jumlah pelatihan belum tentu berarti kemampuan meningkat secara linear. Kualitas data, keakuratan umpan balik, dan kemampuan strategi untuk digeneralisasi juga sangat penting.

Saya ingin melihat Axis terus mengembangkan aspek-aspek ini, agar robot tidak hanya menjalankan gerakan sesuai program tetap, tetapi juga bisa meningkatkan performanya secara bertahap melalui umpan balik yang efektif.

Perangkat keras menentukan apa yang bisa dilakukan robot, sedangkan mekanisme pelatihan menentukan sejauh mana robot berpeluang melakukannya. Jika kelak pelatihan dan umpan balik yang lebih efisien dapat mengurangi biaya coba-coba berulang sekaligus meningkatkan konsistensi robot di berbagai lingkungan, maka peluang penerapan Physical AI bisa semakin terbuka.

Dibanding hanya melihat betapa mengesankannya satu kali demonstrasi, saya lebih ingin tahu apakah sistem ini bisa mengumpulkan pengalaman dalam jangka panjang dan benar-benar mengubahnya menjadi kemampuan.

Jadi, mari terus menantikan perkembangannya!
#AxisRobotics