Setahun setelah kejatuhan 11 Oktober: pelajaran besar tentang leverage dan berakhirnya siklus tradisional.
Genap satu tahun sejak salah satu peristiwa yang paling dikenang dalam sejarah pasar belakangan ini: kejatuhan pada 11 Oktober, ketika $BTC Bitcoin turun tajam dari kisaran 122.000 menuju 105.000 dolar tak lama setelah menyentuh rekor tertinggi di sekitar 126.000.
Pergerakan itu bukan hanya menghentikan euforia saat itu secara mendadak, tetapi juga memicu gelombang likuidasi bersejarah yang mencapai 19 miliar dolar di platform derivatif.
Dengan meninjau kejadian tersebut dari waktu ke waktu, perusahaan analisis institusional sepakat pada satu kesimpulan mendasar: penurunan itu bukan dipicu oleh memburuknya fundamental ataupun hengkangnya pengguna dari jaringan, melainkan oleh jebakan leverage massal. Sebagian besar trader bertaruh secara agresif bahwa siklus bullish empat tahunan akan berlanjut tanpa hambatan, sehingga open interest membengkak hingga mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketika harga mengalami penolakan teknikal pertama, likuidasi otomatis memicu efek domino yang menyeret harga turun tanpa memberi kesempatan bagi mereka yang bertransaksi dengan dana pinjaman untuk bereaksi.
Peringatan ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi aktivitas trading saat ini. Penggunaan kontrak perpetual yang meluas masih mendominasi fluktuasi jangka pendek. Artinya, pasar dapat kembali mengalami koreksi tajam setiap kali posisi terkonsentrasi secara berlebihan pada satu sisi. Pada saat yang sama, para analis menyatakan bahwa anggapan bahwa siklus empat tahunan merupakan prediktor yang selalu akurat sudah kehilangan validitas, karena pergerakan Bitcoin kini mengikuti likuiditas bank sentral, inflasi, dan perubahan geopolitik.
Untuk melindungi modal dalam kondisi ini, penting untuk memantau indikator utama seperti funding rate dan open interest sebelum memasuki pasar…
#noticias
Genap satu tahun sejak salah satu peristiwa yang paling dikenang dalam sejarah pasar belakangan ini: kejatuhan pada 11 Oktober, ketika $BTC Bitcoin turun tajam dari kisaran 122.000 menuju 105.000 dolar tak lama setelah menyentuh rekor tertinggi di sekitar 126.000.
Pergerakan itu bukan hanya menghentikan euforia saat itu secara mendadak, tetapi juga memicu gelombang likuidasi bersejarah yang mencapai 19 miliar dolar di platform derivatif.
Dengan meninjau kejadian tersebut dari waktu ke waktu, perusahaan analisis institusional sepakat pada satu kesimpulan mendasar: penurunan itu bukan dipicu oleh memburuknya fundamental ataupun hengkangnya pengguna dari jaringan, melainkan oleh jebakan leverage massal. Sebagian besar trader bertaruh secara agresif bahwa siklus bullish empat tahunan akan berlanjut tanpa hambatan, sehingga open interest membengkak hingga mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketika harga mengalami penolakan teknikal pertama, likuidasi otomatis memicu efek domino yang menyeret harga turun tanpa memberi kesempatan bagi mereka yang bertransaksi dengan dana pinjaman untuk bereaksi.
Peringatan ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi aktivitas trading saat ini. Penggunaan kontrak perpetual yang meluas masih mendominasi fluktuasi jangka pendek. Artinya, pasar dapat kembali mengalami koreksi tajam setiap kali posisi terkonsentrasi secara berlebihan pada satu sisi. Pada saat yang sama, para analis menyatakan bahwa anggapan bahwa siklus empat tahunan merupakan prediktor yang selalu akurat sudah kehilangan validitas, karena pergerakan Bitcoin kini mengikuti likuiditas bank sentral, inflasi, dan perubahan geopolitik.
Untuk melindungi modal dalam kondisi ini, penting untuk memantau indikator utama seperti funding rate dan open interest sebelum memasuki pasar…
#noticias
