Akhirnya mulai kelihatan hasilnya. Sejauh ini, saya sudah menambang 0.45 $ACU lewat ponsel.
Yang menarik untuk disimak adalah seluruh ekosistem dan visi @Acurast—ini jelas bukan sekadar menambang lewat ponsel ⛏️
Singkatnya, sedikit ACU yang ditambang itu cuma tiket masuk. Yang benar-benar bernilai adalah cara mereka mendefinisikan peran “ponsel”.
Ponsel diposisikan sebagai node komputasi, bukan mesin penambang. Dan tugas ini bukan sekadar menjalankan skrip sembarangan: komputasi di setiap ponsel berjalan di dalam TEE (Trusted Execution Environment), sehingga hasilnya bisa diverifikasi dan datanya tetap rahasia. Perbedaannya nyata. Jaringan penambangan biasa hanya bisa membuktikan “saya sudah berkontribusi”, sedangkan Acurast bisa membuktikan “komputasi ini benar, dan tak seorang pun mengintipnya”.
Jadi, pada dasarnya ini adalah jaringan komputasi yang menyamar sebagai aktivitas penambangan. Developer bisa langsung menerapkan beban kerja serverless di sana. Ada yang menjalankan REST API, webhook, inferensi LLM, dan pemrosesan data rahasia, lalu membayar berdasarkan komputasi yang digunakan—baik dengan ACU maupun USDC. Fakta bahwa orang bersedia membayar untuk komputasi jauh lebih berarti daripada imbalan penambangan.
Skalanya juga bukan sekadar presentasi di PPT. Sekitar 300 ribu unit komputasi telah terhubung di seluruh dunia, tersebar di lebih dari 175 negara. Menurut pihak resmi, ini adalah jaringan komputasi terverifikasi paling terdesentralisasi saat ini.
Jika melihat gambaran besarnya, yang ingin mereka rebut adalah kue pasar cloud. Kapasitas komputasi makin terkonsentrasi di tangan segelintir perusahaan. Ketika AI sedang booming, permintaan pun terus melonjak. Jawaban Acurast adalah memakai perangkat lain untuk mengerjakannya: alih-alih membangun lebih banyak pusat data, mereka memanfaatkan perangkat yang paling banyak tersedia di seluruh dunia dan sudah dilengkapi keamanan tingkat perangkat keras—ponsel. Mereka menyebut konsep ini “Cloud Rebellion”, pemberontakan terhadap cloud.
Dalam keseluruhan rancangan ini, penambangan lebih berperan sebagai “pemicu awal dari sisi pasokan”: imbalan digunakan untuk menarik ratusan ribu perangkat masuk terlebih dahulu. Setelah permintaan dari deployment berbayar menyusul, barulah jaringan ini benar-benar mulai beroperasi.
Saat itu tiba, ponsel tidak lagi menambang koin, melainkan menjadi node bagi pasar komputasi global.
Yang menarik untuk disimak adalah seluruh ekosistem dan visi @Acurast—ini jelas bukan sekadar menambang lewat ponsel ⛏️
Singkatnya, sedikit ACU yang ditambang itu cuma tiket masuk. Yang benar-benar bernilai adalah cara mereka mendefinisikan peran “ponsel”.
Ponsel diposisikan sebagai node komputasi, bukan mesin penambang. Dan tugas ini bukan sekadar menjalankan skrip sembarangan: komputasi di setiap ponsel berjalan di dalam TEE (Trusted Execution Environment), sehingga hasilnya bisa diverifikasi dan datanya tetap rahasia. Perbedaannya nyata. Jaringan penambangan biasa hanya bisa membuktikan “saya sudah berkontribusi”, sedangkan Acurast bisa membuktikan “komputasi ini benar, dan tak seorang pun mengintipnya”.
Jadi, pada dasarnya ini adalah jaringan komputasi yang menyamar sebagai aktivitas penambangan. Developer bisa langsung menerapkan beban kerja serverless di sana. Ada yang menjalankan REST API, webhook, inferensi LLM, dan pemrosesan data rahasia, lalu membayar berdasarkan komputasi yang digunakan—baik dengan ACU maupun USDC. Fakta bahwa orang bersedia membayar untuk komputasi jauh lebih berarti daripada imbalan penambangan.
Skalanya juga bukan sekadar presentasi di PPT. Sekitar 300 ribu unit komputasi telah terhubung di seluruh dunia, tersebar di lebih dari 175 negara. Menurut pihak resmi, ini adalah jaringan komputasi terverifikasi paling terdesentralisasi saat ini.
Jika melihat gambaran besarnya, yang ingin mereka rebut adalah kue pasar cloud. Kapasitas komputasi makin terkonsentrasi di tangan segelintir perusahaan. Ketika AI sedang booming, permintaan pun terus melonjak. Jawaban Acurast adalah memakai perangkat lain untuk mengerjakannya: alih-alih membangun lebih banyak pusat data, mereka memanfaatkan perangkat yang paling banyak tersedia di seluruh dunia dan sudah dilengkapi keamanan tingkat perangkat keras—ponsel. Mereka menyebut konsep ini “Cloud Rebellion”, pemberontakan terhadap cloud.
Dalam keseluruhan rancangan ini, penambangan lebih berperan sebagai “pemicu awal dari sisi pasokan”: imbalan digunakan untuk menarik ratusan ribu perangkat masuk terlebih dahulu. Setelah permintaan dari deployment berbayar menyusul, barulah jaringan ini benar-benar mulai beroperasi.
Saat itu tiba, ponsel tidak lagi menambang koin, melainkan menjadi node bagi pasar komputasi global.