Aku dan banyak teman di sekitarku hampir semuanya, setelah beberapa tahun memasuki dunia kerja, mulai merasakan dengan jelas bahwa semangat kami terkikis. Kami lelah, mati rasa, tak menginginkan apa-apa. Mereka bekerja hanya demi menunggu akhir pekan. Tak punya suasana hati untuk menekuni hobi, membuka buku pun tak bisa berkonsentrasi, lalu berbaring sambil memainkan ponsel dan menonton video pendek. Katanya mereka mencintai uang, tetapi mereka juga tak pernah benar-benar bertekad untuk mencari uang. Hidup tanpa arah, kehilangan seluruh rasa ingin tahu dan keinginan untuk berbagi. Semasa sekolah, kami sering membicarakan sastra, film, perjalanan, musik, dan cinta. Belakangan, topik obrolan kami hanya tersisa soal makan, lembur, mencari uang, dan keluarga. Hidup seperti manusia berhati kosong. Jia Zhangke pernah menulis, bahwa setelah sampai di titik ini, keajaiban tak akan muncul lagi dalam hidup; yang tersisa hanyalah kehidupan biasa-biasa saja, bergulat dengan waktu. Sebagai bagian dari kebanyakan orang, ada begitu banyak kenyataan yang harus kami bereskan. Waktu berlalu begitu cepat, sementara diri sendiri begitu biasa. Aku mulai menjadi sekrup dalam mesin masyarakat dan bahan bakar bagi zaman. Aku memahami dan menjelma menjadi orang membosankan yang dulu kubenci saat kecil. Aku tak lagi memikirkan soal makna atau apakah sesuatu itu berkelas. Makan ya makan, main kartu ya main kartu, minum ya minum, bergaya sok keren ya bergaya sok keren. Seperti katak yang direbus perlahan, akhirnya aku melepaskan khayalan dan menerima hidup yang membosankan ini. Kurasa sekarang banyak hal yang kulakukan hanya untuk mengusir kejenuhan hidup.