$ELIZAOS $AIA $MET Amerika memasang banyak jebakan, tapi mengapa Tiongkok tak pernah terperosok?
Konon, Obama pernah mengatakan sesuatu yang cukup menusuk: Amerika gagal menaklukkan Tiongkok bukan karena kekuatan militer Tiongkok begitu hebat, melainkan karena Tiongkok sama sekali tidak masuk ke dalam jebakan. Terlepas dari benar atau tidaknya ucapan itu, logikanya memang patut direnungkan.
Dulu, untuk menghadapi Uni Soviet, Amerika melancarkan serangkaian jurus: mengelabui Soviet agar menghamburkan uang untuk Inisiatif Pertahanan Strategis, menjatuhkan harga minyak demi memutus sumber pendapatannya, lalu menggunakan “demokrasi dan kebebasan” sebagai senjata lunak. Tekanan dari luar dan dalam membuat raksasa itu bubar begitu saja.
Terhadap Tiongkok, Amerika juga sudah mengerahkan banyak upaya. Latihan militer terus digelar di sekitar kawasan dan ancaman dibesar-besarkan untuk memaksa kami masuk ke perlombaan senjata. Amerika juga mendorong privatisasi menyeluruh dan pembukaan pasar, dengan tujuan mengunci Tiongkok di posisi terbawah rantai industri. Perang dagang dan pembatasan chip—setiap langkah diarahkan ke titik vital.
Namun, Tiongkok justru tidak mengikuti skenario mereka. Pertahanan nasional dibuat secukupnya dan efektif, tanpa berlomba dengan siapa pun. Soal ekonomi, silakan menyerang; kami membuka pasar baru dan memperkuat kemampuan sendiri. Jika pasokan chip dibatasi, kami akan membuatnya sendiri. Industri energi baru, fotovoltaik, dan kereta cepat justru berhasil menembus persaingan.
Pada akhirnya, jebakan Amerika hanya punya satu pola: menyeretmu ke dalam aturan mereka, lalu mengurasmu dengan keunggulan mereka. Hal paling bijak dari Tiongkok adalah keteguhan strategis: silakan jalankan strategimu, kami jalankan strategi kami.
Dalam persaingan antarnegara besar, yang menentukan bukan siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang mampu tetap tenang. Mengurus urusan sendiri dengan sungguh-sungguh jauh lebih ampuh daripada segala macam siasat.#奥巴马 #美联储纪要聚焦10月暂停加息 #币安推出BinanceIntelligence
Konon, Obama pernah mengatakan sesuatu yang cukup menusuk: Amerika gagal menaklukkan Tiongkok bukan karena kekuatan militer Tiongkok begitu hebat, melainkan karena Tiongkok sama sekali tidak masuk ke dalam jebakan. Terlepas dari benar atau tidaknya ucapan itu, logikanya memang patut direnungkan.
Dulu, untuk menghadapi Uni Soviet, Amerika melancarkan serangkaian jurus: mengelabui Soviet agar menghamburkan uang untuk Inisiatif Pertahanan Strategis, menjatuhkan harga minyak demi memutus sumber pendapatannya, lalu menggunakan “demokrasi dan kebebasan” sebagai senjata lunak. Tekanan dari luar dan dalam membuat raksasa itu bubar begitu saja.
Terhadap Tiongkok, Amerika juga sudah mengerahkan banyak upaya. Latihan militer terus digelar di sekitar kawasan dan ancaman dibesar-besarkan untuk memaksa kami masuk ke perlombaan senjata. Amerika juga mendorong privatisasi menyeluruh dan pembukaan pasar, dengan tujuan mengunci Tiongkok di posisi terbawah rantai industri. Perang dagang dan pembatasan chip—setiap langkah diarahkan ke titik vital.
Namun, Tiongkok justru tidak mengikuti skenario mereka. Pertahanan nasional dibuat secukupnya dan efektif, tanpa berlomba dengan siapa pun. Soal ekonomi, silakan menyerang; kami membuka pasar baru dan memperkuat kemampuan sendiri. Jika pasokan chip dibatasi, kami akan membuatnya sendiri. Industri energi baru, fotovoltaik, dan kereta cepat justru berhasil menembus persaingan.
Pada akhirnya, jebakan Amerika hanya punya satu pola: menyeretmu ke dalam aturan mereka, lalu mengurasmu dengan keunggulan mereka. Hal paling bijak dari Tiongkok adalah keteguhan strategis: silakan jalankan strategimu, kami jalankan strategi kami.
Dalam persaingan antarnegara besar, yang menentukan bukan siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang mampu tetap tenang. Mengurus urusan sendiri dengan sungguh-sungguh jauh lebih ampuh daripada segala macam siasat.#奥巴马 #美联储纪要聚焦10月暂停加息 #币安推出BinanceIntelligence