Saat kecil menonton 《Titanic》, kita hanya merasa cinta Jack dan Rose romantis sekaligus tragis.
Saat dewasa dan menontonnya lagi, banyak orang tiba-tiba merasa: Rose, tokoh utama perempuan itu, sepertinya jahat sekali.

Dulu, saat masih muda, kita hanya melihatnya melepaskan diri dari kurungan kaum bangsawan demi mengejar cinta.
Baru setelah dewasa kita memahami bahwa situasinya sendiri adalah sebuah dilema.
Ia dikekang oleh keluarganya dan harus menikah demi menyelamatkan keluarga yang sedang jatuh miskin. Tunangannya, Cal, memberinya hidup mewah, tetapi menganggapnya seperti barang koleksi yang bisa diperjualbelikan.

Banyak orang mencibirnya sebagai “egois”: menerima berlian dari Cal, menikmati kekayaannya, lalu jatuh cinta kepada Jack. Pada akhirnya, ia hidup seorang diri dan menjalani sisa hidup dengan harta berharga milik Cal.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, yang benar-benar ditentang Rose adalah zaman lama yang menganggap perempuan sebagai aset.
Yang diinginkan Cal adalah “barang koleksi mewah” untuk dipajang di ruang tamu dan dibanggakan, seperti batu giok dan kaligrafi yang dikoleksi generasi sebelumnya.
Rose tidak ingin menjadi aset yang diberi harga dan menunggu seseorang mengambil alih. Ia ingin punya hak untuk memilih dan mengendalikan hidupnya sendiri.

Ini tepat menghubungkan pembahasan kita tadi tentang cara dua generasi memandang aset:
Pada zaman dahulu, manusia pun bisa dianggap sebagai aset yang “makin lama disimpan, makin tinggi nilainya, sambil menunggu seseorang mengambil alih”;
sementara yang dicari orang modern adalah kebebasan untuk pergi kapan saja dan menentukan hidup sendiri.

Bukan Rose yang jahat. Saat kecil, kita hanya melihat kisah cintanya;
setelah dewasa, kita memahami perebutan status sosial dan hak untuk menentukan pilihan hidup yang tersembunyi di baliknya.

Di balik balutan romantisnya, pada dasarnya ini adalah kisah seseorang yang menolak diberi harga sebagai aset.