Saat liburan, saya menonton ulang film (The Big Short). Tulisan hari ini adalah ulasan saya;
Kebenaran paling kejam di dunia ini bukanlah kehancuran pasar atau lenyapnya seluruh kekayaan.
Melainkan saat semua orang sedang meraup untung dengan gila-gilaan, hanya kamu yang melihat bahwa kehancuran sudah dekat.
(The Big Short) Dari awal hingga akhir, tak ada pahlawan, tak ada kebangkitan, tak ada semangat membara. Hanya penipuan tentang sifat manusia yang dingin dan kejam, dari awal sampai akhir.
Pada 2008, harga rumah di seluruh Amerika meroket dan semua orang berpesta. Bank menggelontorkan kredit, bank investasi memalsukan laporan, lembaga pemeringkat berbuat curang, dan orang biasa tanpa pikir panjang berutang besar-besaran demi membeli rumah. Semua orang yakin: kenaikan harga adalah hal yang biasa, gelembung itu tak ada, dan risiko hanyalah kebohongan.
Seluruh dunia buta bersama-sama, hanya segelintir orang yang melihat kebusukan di balik kemilau semu.
Mereka membongkar aset-aset busuk hingga ke akarnya, memahami penipuan subprime, dan melihat kebusukan di balik obligasi sampah yang dibungkus berlapis-lapis. Saat orang lain berpesta, mereka mengambil posisi jual. Saat orang lain serakah, mereka tetap waspada.
Lalu, datanglah hukuman yang paling ironis.
Mereka yang membaca tren dengan benar harus menanggung derita terlebih dahulu.
Pasar terus meroket, gelembung terus membesar. Penilaian yang tepat berbuah kerugian di atas kertas tanpa akhir, keraguan tanpa akhir, dan ejekan tanpa akhir. Klien mendesak meminta uangnya kembali, rekan seprofesi menertawakan kebodohanmu, dan seluruh dunia berkata kamu tak memahami pasar.
Masyarakat tak pernah menghormati logika; mereka hanya peduli pada naik turunnya harga saat ini.
Inilah aturan paling kejam dalam trading: pasar bisa terus salah untuk waktu yang lama, sampai nilainya tiba-tiba menjadi nol.
Saat gelembung pecah, tak ada peringatan, tak ada jeda. Gedung-gedung pencakar langit runtuh seketika, tabungan seumur hidup tak bersisa, kelas menengah bangkrut, keluarga hancur, dan masyarakat lapisan bawah tenggelam dalam utang.
Yang paling absurd: para raksasa Wall Street yang menyebabkan bencana akhirnya diselamatkan negara, sementara rakyat biasa yang ikut-ikutan tanpa berpikir tak mendapat pertolongan.
Orang serakah lolos tanpa cedera, orang bodoh membayar dan menanggung kerugian, sementara orang yang sadar menderita habis-habisan.
Sepanjang film ini, yang dibahas bukanlah cara menghasilkan uang dari aksi jual kosong, melainkan siklus kemanusiaan yang berdarah-darah:
Masyarakat selalu ikut-ikutan, selalu euforia, selalu optimistis membabi buta di titik tertinggi dan panik luar biasa di titik terendah.
Pasar tak pernah berbohong; yang selalu menipu adalah emosi kelompok.
Kebanyakan orang menghabiskan seluruh hidupnya dalam kesepakatan bersama orang lain. Mereka ikut arus, mengejar kenaikan dan menjual saat harga turun, membiarkan emosi mereka dikendalikan pergerakan pasar, serta sepenuhnya dikuasai keserakahan dan ketakutan. Mereka tak memahami siklus, tak mampu melihat gelembung, dan selalu membayar harga atas kegilaan orang lain.
Hanya segelintir orang yang tahu:
Saat pasar paling menggila, risikonya paling besar; kabar baik yang dipercaya semua orang justru merupakan jebakan terbesar.
Ujian terbesar dalam trading bukanlah menentukan apakah penilaian kita benar atau salah.
Melainkan ketika seluruh dunia mabuk dan hanya kamu yang sadar, mampukah kamu bertahan menghadapi keraguan orang-orang, siksaan gejolak pasar, dan kesepian yang datang dari sifat manusia?
Ikut arus itu mudah, tetap sadar justru menyakitkan.
Ikut arus bisa mendatangkan untung dalam jangka pendek; melawan aruslah yang memungkinkan kita bertahan dalam jangka panjang.
Pada hakikatnya, setiap kehancuran di dunia ini berawal dari runtuhnya kemanusiaan.
Sejarah selalu berulang karena keserakahan dan kebodohan diwariskan dari generasi ke generasi.
