Pagi tadi aku melihat unggahan di WeChat Moments dari pamanku yang pernah merantau bekerja di Arab Saudi pada 2010. Dia sosok unik di desa kami, sudah pergi ke banyak tempat. Unggahan Moments-nya seperti menulis blog harian 📓 Dia juga jago sekali main mahjong 🀄️ Sampai-sampai aku curiga di kehidupan sebelumnya dia orang Sichuan-Chongqing. Aku bertanya, apa dia mau menerbitkan autobiografi? Mau tidak kalau tulisan-tulisannya disinkronkan ke X untuk disimpan? Katanya boleh dicoba 😂 Sebenarnya, melihat dia itu bukankah seperti melihat diri kita sendiri, para kawan Web3? 🤔😂
Isinya sebagai berikut ⬇️
(Sepanjang hidup tak ada penyesalan, satu-satunya yang kusukai adalah mahjong)
Sepanjang hidupku, tak ada yang bisa kutulis.
Tak ada pasang surut besar, tak ada kisah hidup yang dramatis, tak ada naskah legendaris tentang seseorang yang "berangkat dari nol hingga berharta ratusan juta". Kalau menengok ke belakang, alur utama hidupku cuma tiga kata: main mahjong.
Waktu kecil, melihat orang dewasa duduk mengelilingi meja, aku merasa mahjong punya semacam sihir, daya tarik yang luar biasa kuat. Suara mengocok ubin yang gemerincing itu seperti mantra kuno; sekali mendengarnya, kakiku tak bisa melangkah pergi. Setelah belajar memainkannya sendiri, barulah aku tahu mantra itu bukan berasal dari ubinnya, melainkan dari waktu—mahjong membuatmu merasa setiap permainan adalah awal yang baru, setiap kali kamu merasa "sedikit lagi pasti menang".
Hampir. Dua kata paling mahal dalam hidup.
Aku pernah bermain mahjong semalaman suntuk. Bermain dari gelap hingga terang, lalu sampai gelap lagi. Di sela-selanya aku makan mi instan, minum teh kental, dan pergi ke toilet. Saat menang, kupikir malam ini keberuntunganku bagus, main beberapa ronde lagi baru berhenti; saat kalah, kupikir sebentar lagi nasibku akan berbalik, main beberapa ronde lagi untuk balik modal. Akhirnya, urusan berhenti itu selalu tertunda sampai "ronde berikutnya".
Hal paling hebat dari mahjong bukanlah membuatmu kehilangan uang, melainkan membuatmu kehilangan waktu. Saat uangmu habis, kamu sadar dan merasa sakit. Tapi saat waktumu habis, kamu sama sekali tak menyadarinya. Ketika akhirnya kamu mengangkat kepala dari meja mahjong, langit di luar jendela sudah berganti warna entah berapa kali. Orang-orang di sekitarmu sudah bersekolah, membeli rumah, menikah, sementara kamu masih meraih ubin berikutnya.
Berapa banyak waktu yang kusia-siakan? Sungguh tak bisa kuhitung lagi.
Tapi aku tahu sudah sampai di titik mana. Uang di kantong tak seberapa, kemampuan tak seberapa, dan tak ada yang bisa dibanggakan di CV-ku. Teman semakin sedikit, karena orang yang main mahjong cuma membicarakan mahjong, sementara yang tidak main lama-lama tak lagi menghubungimu. Kalau ada acara kumpul keluarga, sebisa mungkin kuhindari. Bukan karena tak ingin bertemu, tapi karena tak tahu harus bicara apa kepada mereka—masa aku bilang selama enam bulan terakhir aku bermain mahjong lebih dari tiga ratus hari lagi?
Kadang-kadang aku terbangun tengah malam, berguling, lalu sebuah pikiran melintas di benakku: kalau waktu itu kugunakan untuk belajar sesuatu, melakukan sesuatu, atau setidaknya tidur nyenyak beberapa kali, apakah hidupku sekarang akan berbeda?
Lalu keesokan harinya, aku kembali duduk di meja mahjong.
Inilah autobiografiku yang paling jujur. Tak ada kebangkitan dari keterpurukan, tak ada surat penyesalan, tak ada sumpah muluk-muluk "mulai hari ini aku akan menjadi orang baru". Hanya seorang manusia biasa yang menghabiskan masa-masa terbaik hidupnya, meraih ubin demi ubin, lalu membuangnya satu per satu.
Zhang Xueliang berkata: Sepanjang hidup tak ada penyesalan, satu-satunya yang kusukai adalah perempuan.
Kataku: Sepanjang hidup tak ada penyesalan, satu-satunya yang kusukai adalah mahjong.
Kalau dia itu urusan asmara, kalau aku ini... bagaimana mengatakannya, mungkin bisa dibilang mengejek diri sendiri.
Tapi ada satu hal yang membedakanku dari Zhang Xueliang—dia menyukai orang lain, sedangkan aku menyukai waktuku sendiri. Waktu orang lain yang dihabiskan setidaknya masih tertinggal dalam ingatan orang lain; waktu sendiri yang dihabiskan bahkan tak meninggalkan suara sedikit pun.
Aku menulis ini bukan untuk menasihati siapa pun. Orang yang suka main mahjong tidak bisa dinasihati, sama seperti diriku dulu—siapa pun yang menasihati, percuma.
Tiba-tiba saja ingin menuliskannya. Untuk kubaca sendiri.
Mungkin suatu hari nanti, saat bangkit dari meja mahjong dan membaca tulisan ini, aku benar-benar bisa... mengurangi satu ronde saja, ya satu ronde lebih sedikit.
