Risiko terbesar Guinea mungkin bukan gagal mengembangkan Simandou. Risikonya mungkin justru berhasil mengembangkannya — tetapi tetap gagal melakukan diversifikasi.

Bank Dunia mendorong Guinea agar menggunakan pendapatan bijih besi yang akan datang untuk mendorong pertumbuhan di luar sektor pertambangan. Hal ini penting karena Simandou diperkirakan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Guinea secara signifikan seiring meningkatnya produksi bijih besi.

Namun, ada hal lain yang menurut saya lebih menarik.

Ledakan sektor pertambangan bisa membuat angka PDB terlihat luar biasa, sementara fondasi ekonomi tetap rentan. Jika sebagian besar kekayaan baru hanya terkonsentrasi di sekitar kegiatan ekstraksi, infrastruktur terkait pertambangan, dan pendapatan pemerintah, negara itu justru bisa semakin terpapar siklus komoditas.

Tunggu — mungkin “diversifikasi” sebenarnya adalah inti kisah Simandou.

Peluangnya adalah mengubah pendapatan pertambangan menjadi hal-hal yang terus menghasilkan nilai bahkan setelah siklus bijih besi berubah: infrastruktur yang lebih baik, pertanian, pendidikan, keterampilan, investasi swasta, dan institusi yang lebih kuat. Pada dasarnya, inilah arah yang didorong oleh Bank Dunia.

Jadi, saya tidak akan menilai Simandou hanya dari seberapa banyak bijih besi yang diekspor Guinea.

Saya akan menilainya dari apa yang berhasil dibangun Guinea dengan uang itu.

Itulah ujian yang lebih berat.

Saya masih mencoba memahami apa sebenarnya yang akan berubah.