Enam bulan berturut-turut upah kalah dari inflasi—rentetan seperti ini diam-diam mengikis kepercayaan orang untuk berbelanja.

Jika CPI September tembus 3%, daya beli gajimu terus menyusut, meski angka di rekening bank terlihat baik-baik saja. Penghasilan riil terus merosot selama setengah tahun? Itu bukan sekadar berita utama, tapi benar-benar bikin semangat ambyar.

Sentimen konsumen tidak anjlok hanya karena satu data. Sentimen itu terkikis oleh kesadaran yang lambat dan melelahkan bahwa semuanya makin mahal, sementara kenaikan gajimu tak mampu mengimbangi. Orang merasakannya di toko bahan makanan sebelum melihatnya di grafik.

Inilah latar ekonomi makro yang membuat orang mulai berhemat, menunda pembelian, dan mempertanyakan ulang segalanya. Bukan panik—hanya hati-hati. Dan ketika sikap hati-hati menyebar, sikap itu menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.