Perak pada Oktober 2026 sudah waktunya masuk kembali ke daftar pantauan.
Pada awal tahun, perak sempat "sulit didapat": suku bunga sewa di London melonjak hingga lebih dari 30%, biaya pinjaman semalam sempat menembus 100%, dan harga perak menembus US$120 pada akhir Januari—sebuah rekor bersejarah. Beberapa bulan kemudian, narasinya berbalik total: harga perak terpangkas separuh dari puncaknya di US$121, sempat turun ke US$50 pada awal Juli, sementara persediaan di Shanghai melonjak dari 256 ton menjadi hampir 1.500 ton.
Pada September, harga perak kembali turun 9,21% ke kisaran US$60. Di baliknya ada tiga faktor penekan yang bertumpuk:
📌 Satu: The Fed mematikan "harapan penurunan suku bunga"
Kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September bukan kejutan. Yang fatal adalah dot plot—median proyeksi suku bunga pada akhir 2026 dan 2027 sama-sama 4,1%, yang berarti The Fed menyatakan tidak berniat menurunkan suku bunga bahkan hingga 2027. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke 5,21%, sementara tenor 30 tahun naik ke 5,40%—keduanya mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun. Perak adalah aset yang tidak memberikan bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar biaya peluang untuk memilikinya. Karena itu, pasar sama sekali mengabaikan fungsi perak sebagai aset lindung nilai geopolitik.
📌 Dua: "Dampak berlawanan" dari harga minyak
Situasi di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$105. Dalam kondisi normal, ketegangan geopolitik menguntungkan logam mulia. Namun kali ini jalur dampaknya berubah: harga minyak melonjak → ekspektasi inflasi meningkat → ekspektasi kenaikan suku bunga menguat → suku bunga riil naik → perak tertekan. Alih-alih pembelian untuk lindung nilai, yang datang justru The Fed yang lebih hawkish.
📌 Tiga: "masa kekosongan permintaan" pada fundamental
Pengurangan penggunaan perak di sektor fotovoltaik sedang berlangsung (konsumsi perak per watt turun dari 5 mg/W menjadi di bawah 3 mg/W), sementara tambahan permintaan perak dari AI dan pusat data belum mengambil alih. Deutsche Bank bahkan mengeluarkan peringatan serius: defisit pasokan yang berlangsung selama beberapa tahun resmi berakhir, dan pada 2027 pasar beralih menjadi surplus. Persediaan di tiga bursa utama pun "menumpuk" secara bersamaan. Narasi dan persediaan sama-sama menekan, membuat sentimen sempat sangat pesimistis.
Namun, memasuki Oktober, skenarionya berubah:
🔄 Taruhan kenaikan suku bunga anjlok dari 70% menjadi 25%. Goldman Sachs menggeser perkiraan kenaikan suku bunga berikutnya ke Desember; UBS menetapkan target harga akhir tahun sebesar US$70.
⚡ AI akan mengambil alih permintaan: penggunaan perak oleh pusat data akan melampaui 42,3 juta ons, setara dengan produksi perak tambang Chile selama setahun penuh. Silver Institute memperkirakan defisit pada 2026 masih mencapai 46,3 juta ons.
📉 Sebagian besar sentimen negatif sudah tercermin dalam harga: dampak pengurangan penggunaan perak di sektor fotovoltaik sudah sepenuhnya terasa, penumpukan persediaan di Shanghai melambat, dan posisi net long spekulatif di COMEX turun ke level terendah dalam hampir setahun. Posisi short tak lagi sesesak sebelumnya.
Perlu diperhatikan: bertahannya harga di US$60 ≠ pembalikan arah seketika. Lingkungan suku bunga tinggi masih berlangsung, kenaikan suku bunga pada Desember masih mungkin terjadi, dan pandangan bank investasi berbeda jauh—Goldman Sachs memperkirakan US$85–100, sedangkan UBS memperkirakan US$70–75.
Selanjutnya, pantau tiga sinyal: apakah suku bunga riil obligasi AS akan mencapai puncak, apakah tambahan penggunaan perak oleh AI benar-benar akan mengambil alih sebelum 2027, serta arus persediaan di London dan COMEX.
Yang bisa dipastikan: fase paling ganas dari penurunan tajam kali ini kemungkinan besar sudah berlalu. Perak sudah waktunya masuk kembali ke daftar pantauan.
#兴业银锡 $XAG
#SalingFollow #PastiFollowBack#
Pada awal tahun, perak sempat "sulit didapat": suku bunga sewa di London melonjak hingga lebih dari 30%, biaya pinjaman semalam sempat menembus 100%, dan harga perak menembus US$120 pada akhir Januari—sebuah rekor bersejarah. Beberapa bulan kemudian, narasinya berbalik total: harga perak terpangkas separuh dari puncaknya di US$121, sempat turun ke US$50 pada awal Juli, sementara persediaan di Shanghai melonjak dari 256 ton menjadi hampir 1.500 ton.
Pada September, harga perak kembali turun 9,21% ke kisaran US$60. Di baliknya ada tiga faktor penekan yang bertumpuk:
📌 Satu: The Fed mematikan "harapan penurunan suku bunga"
Kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September bukan kejutan. Yang fatal adalah dot plot—median proyeksi suku bunga pada akhir 2026 dan 2027 sama-sama 4,1%, yang berarti The Fed menyatakan tidak berniat menurunkan suku bunga bahkan hingga 2027. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke 5,21%, sementara tenor 30 tahun naik ke 5,40%—keduanya mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun. Perak adalah aset yang tidak memberikan bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar biaya peluang untuk memilikinya. Karena itu, pasar sama sekali mengabaikan fungsi perak sebagai aset lindung nilai geopolitik.
📌 Dua: "Dampak berlawanan" dari harga minyak
Situasi di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$105. Dalam kondisi normal, ketegangan geopolitik menguntungkan logam mulia. Namun kali ini jalur dampaknya berubah: harga minyak melonjak → ekspektasi inflasi meningkat → ekspektasi kenaikan suku bunga menguat → suku bunga riil naik → perak tertekan. Alih-alih pembelian untuk lindung nilai, yang datang justru The Fed yang lebih hawkish.
📌 Tiga: "masa kekosongan permintaan" pada fundamental
Pengurangan penggunaan perak di sektor fotovoltaik sedang berlangsung (konsumsi perak per watt turun dari 5 mg/W menjadi di bawah 3 mg/W), sementara tambahan permintaan perak dari AI dan pusat data belum mengambil alih. Deutsche Bank bahkan mengeluarkan peringatan serius: defisit pasokan yang berlangsung selama beberapa tahun resmi berakhir, dan pada 2027 pasar beralih menjadi surplus. Persediaan di tiga bursa utama pun "menumpuk" secara bersamaan. Narasi dan persediaan sama-sama menekan, membuat sentimen sempat sangat pesimistis.
Namun, memasuki Oktober, skenarionya berubah:
🔄 Taruhan kenaikan suku bunga anjlok dari 70% menjadi 25%. Goldman Sachs menggeser perkiraan kenaikan suku bunga berikutnya ke Desember; UBS menetapkan target harga akhir tahun sebesar US$70.
⚡ AI akan mengambil alih permintaan: penggunaan perak oleh pusat data akan melampaui 42,3 juta ons, setara dengan produksi perak tambang Chile selama setahun penuh. Silver Institute memperkirakan defisit pada 2026 masih mencapai 46,3 juta ons.
📉 Sebagian besar sentimen negatif sudah tercermin dalam harga: dampak pengurangan penggunaan perak di sektor fotovoltaik sudah sepenuhnya terasa, penumpukan persediaan di Shanghai melambat, dan posisi net long spekulatif di COMEX turun ke level terendah dalam hampir setahun. Posisi short tak lagi sesesak sebelumnya.
Perlu diperhatikan: bertahannya harga di US$60 ≠ pembalikan arah seketika. Lingkungan suku bunga tinggi masih berlangsung, kenaikan suku bunga pada Desember masih mungkin terjadi, dan pandangan bank investasi berbeda jauh—Goldman Sachs memperkirakan US$85–100, sedangkan UBS memperkirakan US$70–75.
Selanjutnya, pantau tiga sinyal: apakah suku bunga riil obligasi AS akan mencapai puncak, apakah tambahan penggunaan perak oleh AI benar-benar akan mengambil alih sebelum 2027, serta arus persediaan di London dan COMEX.
Yang bisa dipastikan: fase paling ganas dari penurunan tajam kali ini kemungkinan besar sudah berlalu. Perak sudah waktunya masuk kembali ke daftar pantauan.
#兴业银锡 $XAG
#SalingFollow #PastiFollowBack#