
Mereka bertahan melewati perang.
Mereka bertahan melewati keruntuhan gelembung aset Jepang.
Mereka bertahan melewati puluhan tahun deflasi.
Mereka bertahan melewati pergantian generasi.
Namun, 2026 membuktikan bahwa warisan 100 tahun pun tak lagi cukup.
Menurut Teikoku Databank, kebangkrutan di kalangan perusahaan Jepang yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun mencapai laju tertinggi sepanjang sejarah, dengan 112 kasus hanya dalam delapan bulan pertama 2026.
Coba resapi angka itu.
Ini bukan perusahaan rintisan yang bisa dibuang begitu saja. Ini adalah bisnis yang bertahan selama seabad atau lebih—perusahaan yang dibangun lintas generasi, mengakar kuat di komunitas setempat, dan secara historis ditopang oleh kepemilikan konservatif, akumulasi modal, margin yang stabil, serta pemikiran jangka panjang.
Kini lingkungan ekonomi sedang merobek-robek model tersebut.
TEKANAN DATANG DARI SEGALA ARAH.
💥 BIAYA YANG TERUS MENINGKAT
Kebangkrutan terkait harga melonjak 23,8% menjadi 556 kasus pada paruh pertama 2026.
💥 KEKURANGAN TENAGA KERJA
Kebangkrutan terkait kekurangan tenaga kerja melonjak 12,4% menjadi 227 kasus.
💥 KRISIS SUKSESI
Kebangkrutan terkait ketiadaan penerus naik 16,9% menjadi 312 kasus secara tahunan pada paruh pertama 2026.
Dan di balik semua ini ada kenyataan demografis Jepang yang brutal:
Angka kelahiran menurun.
Lebih banyak lansia.
Lebih sedikit pekerja.
Pasar domestik yang menyusut.
Selama puluhan tahun, pasar domestik Jepang menjadi mesin andalan. Kini mesin itu semakin menyusut.
Perusahaan kecil yang berfokus pada pasar domestik paling terhimpit karena mereka sering kali tak punya daya tawar harga yang dibutuhkan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan.
Inflasi mungkin akhirnya memungkinkan perusahaan Jepang menaikkan harga lebih tinggi daripada yang bisa mereka lakukan selama era deflasi—tetapi itu TIDAK berarti semua perusahaan punya daya tawar harga yang cukup untuk bertahan.
Harga bahan baku naik.
Biaya tenaga kerja naik.
Biaya energi naik.
Suku bunga berpengaruh.
Tarif berpengaruh.
Risiko geopolitik berpengaruh.
Namun, pelanggan tetap punya batas kemampuan.
Itu mimpi buruk banget bagi perusahaan yang hidup dengan margin tipis.
Lihat Sube Shoten, produsen tahu yang didirikan pada 1877, pada era Meiji di Jepang.
Setelah hampir 150 tahun beroperasi, perusahaan itu dilaporkan menghentikan kegiatan usahanya pada Mei 2026 dan mulai bersiap menghadapi kebangkrutan, setelah margin laba yang tipis berbenturan dengan lonjakan biaya bahan baku.
Lalu ada Kadoya Sesame Mills, yang didirikan pada 1858.
Perusahaan itu bertahan melewati perang, transformasi Jepang, serta kebangkitan dan keruntuhan gelembung aset negara yang spektakuler.
Namun kini Kadoya bersiap menjadi perusahaan tertutup melalui penawaran tender yang didukung oleh Integral, firma ekuitas swasta Jepang, di tengah meningkatnya biaya bahan baku dan risiko geopolitik.
Inilah bagian yang luput dari perhatian orang.
Menjadi perusahaan tertutup bukan berarti otomatis gagal.
Bagi sebagian bisnis berusia seabad, langkah ini mungkin merupakan penataan ulang strategis—cara untuk merestrukturisasi kepemilikan, berinvestasi, menyesuaikan operasional, dan mengejar pertumbuhan tanpa tekanan jangka pendek dari pasar publik.
Namun, tren yang lebih luas ini mustahil diabaikan.
Ketahanan legendaris perusahaan Jepang kini diuji oleh musuh yang sama sekali berbeda:
demografi + inflasi + kelangkaan tenaga kerja + permintaan yang menyusut + masalah suksesi.
Model lama Jepang dibangun dengan mengutamakan daya tahan.
Lingkungan baru menuntut adaptasi.
Dan beradaptasi itu mahal banget.
Banyak dari perusahaan ini membangun neraca keuangan yang kuat dan laba stabil selama beberapa generasi. Mereka membangun bisnis yang dirancang untuk bertahan puluhan tahun, bukan mengejar pertumbuhan eksplosif.
Namun, kini mereka menghadapi masa depan yang sulit diperkirakan.
Seperti yang dikatakan Shigeto Nagai dari Oxford Economics, banyak perusahaan yang telah lama berdiri semakin khawatir bahwa mereka tak bisa mempertahankan profitabilitas tinggi dalam jangka panjang—dan laba mereka akan terus terkikis secara bertahap.
Ketakutan itu mengubah segalanya.
Para pemilik mempertimbangkan kembali:
Siapa yang memiliki perusahaan ini?
Siapa yang akan meneruskan kepemimpinan pendirinya?
Haruskah perusahaan tetap menjadi perusahaan tertutup?
Haruskah perusahaan menjual usahanya?
Haruskah perusahaan bergabung dengan perusahaan lain?
Haruskah perusahaan berekspansi ke luar negeri?
Haruskah perusahaan melakukan restrukturisasi?
Sementara itu, yen yang melemah, reformasi tata kelola perusahaan, tekanan aktivis, inflasi, tarif, biaya tenaga kerja, dan suku bunga semuanya memaksa dewan direksi dan pemilik meninjau kembali keputusan yang bisa ditunda oleh generasi sebelumnya.
Ekspansi ke luar negeri juga bukan solusi ajaib.
Perusahaan yang menghabiskan 100 tahun untuk menguasai pasar Jepang tidak bisa begitu saja bangun suatu pagi dan berubah menjadi perusahaan global.
Tidak ada jawaban “satu solusi untuk semua” yang bisa diandalkan.
Itulah sebabnya 2026 penting.
Ini bukan sekadar kisah tentang perusahaan tua yang mati.
Ini adalah kisah tentang sistem ekonomi yang dipaksa untuk berevolusi.
112 perusahaan berusia lebih dari seabad bangkrut hanya dalam delapan bulan.
556 kebangkrutan akibat biaya dalam enam bulan.
227 kebangkrutan terkait kekurangan tenaga kerja.
312 kebangkrutan terkait masalah suksesi.
Angka-angka itu bukan muncul begitu saja.
Semua itu adalah lampu peringatan.
Jepang menghabiskan beberapa generasi untuk membangun bisnis yang dirancang agar mampu bertahan menghadapi hampir apa pun.
Kini bisnis-bisnis itu menyadari kenyataan pahit:
Sejarah 100 tahun bisa melindungi perusahaan dari masa lalu.
Hal itu tidak bisa menjamin kelangsungan hidup di masa depan.
🇯🇵 Pertarungan ekonomi Jepang berikutnya bukan sekadar soal pertumbuhan.
Ini soal apakah institusi tertua mereka bisa mengubah diri sebelum demografi, biaya, kekurangan tenaga kerja, dan pasar domestik yang menyusut benar-benar mengubur mereka.
WARISAN BUKAN JAMINAN KEKEBALAN.
2026 ADALAH ALARM PERINGATAN.
