Dua kapal tanker lagi dilaporkan menjadi target akhir pekan ini di dekat Oman dan Iran.

Dan Iran membuat posisinya benar-benar jelas:

SELAT HORMUZ TIDAK AKAN DIBUKA LAGI ATAS PERINTAH AMERIKA.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan selat tersebut akan tetap tertutup sampai syarat Teheran untuk mengakhiri perang dipenuhi.

Kondisi-kondisi itu dilaporkan mencakup penghentian “agresi” militer AS, pencabutan blokade laut, berakhirnya perang ekonomi, dan pelepasan aset-aset Iran.

Sementara itu, Washington ingin Iran membongkar program senjata nuklirnya.

Itu bukan sekadar perbedaan pendapat kecil.

Itulah kebuntuan geopolitik yang bertumpu pada salah satu chokepoint energi terpenting di Bumi.

Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar SATU PERLIMA dari pasokan minyak dunia mengalir melalui Selat Hormuz.

Sekarang kapal tanker sedang diserang.

Infrastruktur energi Arab Saudi dilaporkan kembali menjadi sasaran.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal dan drone terhadap fasilitas Saudi Aramco di Riyadh.

Dan AS dilaporkan sedang menyiapkan PENGIRIMAN KELOMPOK KETUGASAN SERANG KAPAL INDUK KE-3 ke kawasan itu, bersama pasukan amfibi yang membawa sekitar 2.000 Marinir.

Ini bukan lagi sekadar konflik di Timur Tengah.

INI ADALAH MASALAH RANTAI PASOK GLOBAL.

Harga minyak sudah melonjak melewati $100 per barel.

Brent: sekitar $102,25.

WTI: sekitar $91,11.

Dan dampaknya tidak berhenti di pompa bensin.

Harga minyak yang lebih tinggi berarti biaya transportasi yang lebih tinggi.

Biaya transportasi yang lebih tinggi berarti biaya produksi yang lebih tinggi.

Biaya produksi yang lebih tinggi mendorong inflasi.

Inflasi yang lebih tinggi memberi tekanan pada bank sentral.

Inflasi yang lebih tinggi dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Dan biaya pinjaman yang lebih tinggi menampar pemerintah, perusahaan, konsumen, dan pasar keuangan.

BEGINILAH SEBUAH PERANG BERUBAH MENJADI GUNCANGAN EKONOMI.

Bagian yang mengerikan?

Investor semakin membicarakan KAPAN konflik kembali menjadi perang skala penuh—bukan JIKA.

Setiap kapal tanker yang terkena menambah lapisan risiko.

Setiap penempatan pasukan militer meningkatkan probabilitas eskalasi.

Setiap gangguan melalui Hormuz meningkatkan premi risiko yang tertanam dalam harga energi global.

Dan jika selat tetap dibatasi selama cukup lama, dunia tidak hanya kehilangan minyak.

DUNIA KEHILANGAN KEPREDICTABLEAN.

Pemerintah dipaksa untuk melepas cadangan strategis.

Industri membayar lebih mahal untuk energi.

Konsumen membayar lebih mahal untuk bahan bakar dan barang.

Bank sentral menghadapi mimpi buruk:

TANGANI INFLASI SAAT PERANG MERUSAK SISI PENAWARAN EKONOMI.

Itu bahaya yang sebenarnya.

Pasar tidak perlu penutupan total Hormuz agar panik.

Yang perlu dipercayai hanyalah bahwa kapal tanker berikutnya bisa terkena, fasilitas berikutnya bisa diserang, dan penempatan pasukan militer berikutnya bisa memicu perang yang lebih luas.

Beginilah risiko geopolitik berubah menjadi risiko finansial.

Dan pada akhirnya, risiko finansial menjadi MASALAHMU.

Selat Hormuz bukan hanya sebuah garis di peta.

INI ADALAH TITIK TEKANAN YANG TERHUBUNG LANGSUNG KE EKONOMI GLOBAL.

Kalau hal ini meledak lagi, pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah minyak akan naik lebih tinggi?”

Pertanyaan sebenarnya akan menjadi:

“SEBERAPA BESAR EKONOMI GLOBAL YANG BISA MENYERAPNYA?”

Timur Tengah sedang bermain api.

Dan ekonomi global sedang berdiri di atas bensin yang terkutuk.

#Hormuz #Iran #TimurTengah #Minyak #Geopolitik #EkonomiGlobal #Inflasi #KrisisEnergi #ArabSaudi #AmerikaSerikat #Brent #WTI