Melihat unggahan tentang “cadangan SHIB di bursa kembali ke 88 triliun, tekanan jual segera datang”, pemegang posisi besar mungkin mudah menganggapnya sebagai hitung mundur menuju aksi jual. Namun, token yang masuk ke bursa hanya berarti lokasi penyimpanannya berubah; token itu belum menjadi order jual di pasar spot. Unggahan viral tersebut tidak menyebutkan platform data, bursa mana saja yang dicakup, atau rentang waktu statistiknya, sehingga angka itu tidak bisa diverifikasi secara independen.

Statistik cadangan on-chain bergantung pada identifikasi dompet bursa. Penambahan label alamat atau pemindahan aset antar-dompet bisa mengubah saldo yang ditampilkan; pihak yang mentransfer token juga belum tentu berniat segera menjualnya. Glassnode, penyedia data semacam ini, mengingatkan bahwa saldo bursa mungkin tidak mencakup sebagian alamat dan angka historis juga dapat direvisi seiring pembaruan label.

Jika benar-benar khawatir dengan tekanan jual, cari dulu data asli dan acuan waktunya, lalu periksa apakah volume perdagangan spot dan harga SHIB melemah pada periode yang sama. Tanpa dua langkah ini, “cadangan meningkat = harga akan turun dalam dua jam” hanyalah dugaan. Jangan biarkan grafik angka tanpa sumber menentukan posisi investasimu.