Melihat proyek komputasi terdesentralisasi akhir-akhir ini, saya semakin merasa bahwa satu data bisa dengan mudah menipu:

Banyak perangkat tidak berarti benar-benar ada orang yang memakainya.

Acurast punya cara berpikir yang cukup unik: mengubah smartphone yang sedang menganggur di tangan banyak orang menjadi node komputasi, sehingga para developer bisa langsung memanggil daya komputasi tersebut.

Namun yang lebih saya perhatikan adalah masalah lain:

Setelah para developer benar-benar mulai menggunakan daya komputasi, mereka di dalamnya sebenarnya melakukan apa?

Mari kita uraikan sedikit ⬇️

1/ acu tidak hanya soal tata kelola token

di dalam desainnya, developer yang melakukan deployment tugas komputasi harus membayar biaya yang sesuai, dan interaksi dengan jaringan juga tetap membutuhkan .

Sederhananya adalah:

Developer menggunakan jaringan → menghasilkan tugas komputasi → membayar biaya → ikut berpartisipasi.

Jadi, ada hubungan di antara keduanya.

2/ Jumlah ponsel yang lebih banyak belum tentu membuat nilainya makin tinggi

Bagian ini menurut saya sangat penting.

Acurast bisa terhubung dengan semakin banyak ponsel, sehingga pasokan daya komputasi memang akan semakin besar.

3/ Berikutnya, yang lebih saya fokuskan adalah volume tugas yang benar-benar terjadi

Berapa banyak developer yang terus-menerus melakukan deployment?

Apakah tugasnya sering terulang?

Apakah biaya komputasi ikut bertambah seiring dengan peningkatan penggunaan?

Data-data ini mungkin lebih berharga untuk dilihat dibanding sekadar jumlah node.

Hal yang menarik adalah, mereka mengaitkan “penggunaan daya komputasi” dengan “penggunaan Token”.

Ke depannya, yang perlu dibuktikan sebenarnya juga cukup sederhana:

Bukan soal berapa banyak daya komputasi yang bisa disediakan jaringan, tetapi benar-benar berapa banyak orang yang bersedia mengeluarkan uang untuk menggunakan daya komputasi tersebut.