#G7PlansToReleaseUpTo100MBarrelsOilDiesel Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) bergerak untuk merilis sekitar 100 juta barel minyak dan produk petrokimia ke pasar internasional dalam upaya meringankan tekanan pada pasokan energi global dan mencegah kenaikan harga lebih lanjut yang disebabkan oleh gangguan berkepanjangan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Langkah ini diambil ketika pasar minyak global terus menghadapi kendala pasokan yang sangat berat. Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan arus minyak melalui Hormuz telah turun drastis dari tingkat sebelum krisis, sementara pasar produk olahan—terutama diesel—tetap berada di bawah tekanan yang signifikan.
Mengapa Hormuz begitu penting?
Selat Hormuz adalah salah satu penghambat (chokepoint) energi terpenting di dunia. Sebelum krisis, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk petrokimia melintas melalui Selat Hormuz setiap hari, yang mewakili sekitar 25% dari perdagangan minyak laut global.
Jika pengiriman melalui selat itu dibatasi, masalahnya bukan hanya bahwa minyak menghilang. Masalah utamanya adalah minyak yang diproduksi di kawasan Teluk tidak dapat mencapai pembeli internasional secara efisien.
Dengan demikian:
Gangguan Hormuz → ekspor Teluk turun → pasokan global mengencang → persediaan menurun → pembeli berebut untuk mendapatkan lebih sedikit barel → harga minyak dan bahan bakar naik.
Langkah ini diambil ketika pasar minyak global terus menghadapi kendala pasokan yang sangat berat. Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan arus minyak melalui Hormuz telah turun drastis dari tingkat sebelum krisis, sementara pasar produk olahan—terutama diesel—tetap berada di bawah tekanan yang signifikan.
Mengapa Hormuz begitu penting?
Selat Hormuz adalah salah satu penghambat (chokepoint) energi terpenting di dunia. Sebelum krisis, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk petrokimia melintas melalui Selat Hormuz setiap hari, yang mewakili sekitar 25% dari perdagangan minyak laut global.
Jika pengiriman melalui selat itu dibatasi, masalahnya bukan hanya bahwa minyak menghilang. Masalah utamanya adalah minyak yang diproduksi di kawasan Teluk tidak dapat mencapai pembeli internasional secara efisien.
Dengan demikian:
Gangguan Hormuz → ekspor Teluk turun → pasokan global mengencang → persediaan menurun → pembeli berebut untuk mendapatkan lebih sedikit barel → harga minyak dan bahan bakar naik.