#dollarindexhitshighestsincemay2025
Indeks Dolar AS (DXY), pasar global dihantam angin kencang yang tajam dengan berhasil menembus level 102 dan mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan rekor imbal hasil obligasi AS serta kekhawatiran anggaran di Eropa, bersama dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, mendorong dolar ke puncak dalam 17 bulan terakhir. 3 Faktor Kritis yang Mendorong Dolar ke Puncak
Di balik lonjakan agresif pada indeks dolar, terdapat perkembangan berikut yang menekan perekonomian global:
Imbal Hasil Obligasi Rekor: Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun melonjak ke 5,34%, mencapai puncak 24 tahun, sehingga memicu pergeseran cepat dana global ke dolar. "Gempa" di Zona Euro: Tingginya defisit anggaran Prancis dan melebaranya selisih imbal hasil obligasi dengan Jerman ke level tertinggi sejak krisis utang 2012 menggerus euro. Euro melemah hingga batas 1,12, level terendahnya terhadap dolar sejak Mei 2025. Guncangan Energi dan Inflasi: Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, menjaga kekhawatiran inflasi di seluruh dunia tetap hidup, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama. Lonjakan dolar yang bersifat runaway (lari kencang) ini, sekaligus memberi tekanan biaya tambahan pada negara pengimpor komoditas, sementara emas dan pasar saham juga mengalami perubahan keseimbangan. Para investor menantikan data ketenagakerjaan AS kritis untuk September yang akan diumumkan hari ini guna memastikan arah tren dengan lebih pasti.
Indeks Dolar AS (DXY), pasar global dihantam angin kencang yang tajam dengan berhasil menembus level 102 dan mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan rekor imbal hasil obligasi AS serta kekhawatiran anggaran di Eropa, bersama dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, mendorong dolar ke puncak dalam 17 bulan terakhir. 3 Faktor Kritis yang Mendorong Dolar ke Puncak
Di balik lonjakan agresif pada indeks dolar, terdapat perkembangan berikut yang menekan perekonomian global:
Imbal Hasil Obligasi Rekor: Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun melonjak ke 5,34%, mencapai puncak 24 tahun, sehingga memicu pergeseran cepat dana global ke dolar. "Gempa" di Zona Euro: Tingginya defisit anggaran Prancis dan melebaranya selisih imbal hasil obligasi dengan Jerman ke level tertinggi sejak krisis utang 2012 menggerus euro. Euro melemah hingga batas 1,12, level terendahnya terhadap dolar sejak Mei 2025. Guncangan Energi dan Inflasi: Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, menjaga kekhawatiran inflasi di seluruh dunia tetap hidup, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama. Lonjakan dolar yang bersifat runaway (lari kencang) ini, sekaligus memberi tekanan biaya tambahan pada negara pengimpor komoditas, sementara emas dan pasar saham juga mengalami perubahan keseimbangan. Para investor menantikan data ketenagakerjaan AS kritis untuk September yang akan diumumkan hari ini guna memastikan arah tren dengan lebih pasti.
