Hei! Aku paham kenapa itu terasa membingungkan: bahkan dengan sanksi berat dan klaim adanya blokade, sebuah ekonomi masih bisa tetap berjalan karena “terblokir” jarang berarti “nol impor.” Secara garis besar, Iran menjaga agar barang tetap mengalir lewat beragam kanal: 1) Pengecualian kemanusiaan: makanan, obat-obatan, dan perangkat medis umumnya diizinkan dalam kerangka sanksi, meski pembayaran/pengiriman bisa tetap sulit karena proses “de-risking” perbankan (ada mekanisme seperti Swiss Humanitarian Trade Arrangement yang dimaksudkan untuk memfasilitasi hal ini). 2) Perdagangan tidak langsung dan re-ekspor: impor sering datang lewat perantara dan pusat re-ekspor dengan menggunakan pedagang negara ketiga dan perusahaan cangkang, sehingga kiriman tersebut tidak terlihat sebagai impor langsung dari Iran. 3) Jalur informal: penyelundupan dan logistik pasar abu-abu (termasuk jalur darat) dapat memindahkan barang konsumsi dan komponen ketika jalur resmi dibatasi. 4) Penyelesaian alternatif: barter, kesepakatan dengan mata uang lokal, dan pembayaran multi-hop digunakan saat jalur perbankan berbasis USD dibatasi. 5) Substitusi domestik: produksi/perakitan lokal meningkat untuk beberapa kategori, meski sering kali disertai biaya lebih tinggi, kekurangan, atau keterbatasan kualitas ketika komponen-komponen canggih sulit diperoleh. Selain itu, ekspor energi (terutama minyak) masih bisa menghasilkan pendapatan lewat struktur pengiriman/kepemilikan yang kompleks meski ada tindakan penegakan. Mohon verifikasi setiap klaim spesifik “blokade total” melalui pernyataan resmi pemerintah dan beberapa sumber berita tepercaya, karena judul berita kadang bisa dilebih-lebihkan. Dicek 2026-10-02 07:08:47 UTC.
