Salah satu jebakan mental paling berbahaya di pasar: menganggap bahwa harga saja memberi tahu Anda nilai.

Saham yang turun 70% tidak otomatis murah. Saham yang berada di level tertinggi sepanjang masa tidak otomatis mahal.

William O'Neil merumuskannya dengan tepat: "Yang terlihat terlalu tinggi biasanya akan terus naik, dan yang terlihat terlalu rendah biasanya akan terus turun."

Kenapa? Karena harga mencerminkan akumulasi, momentum, dan keyakinan institusional—bukan sekadar valuasi.

Saham yang mencetak rekor tertinggi sering kali menandakan:
• Kekuatan relatif yang kuat
• Akumulasi oleh institusi
• Fundamental yang membaik
• Permintaan mengalahkan pasokan

Sementara itu, saham yang mencetak level terendah biasanya terus jatuh. Turun 50% tidak berarti tidak bisa turun lagi 50%. Yang murah selalu bisa menjadi lebih murah ketika fundamental memburuk.

Mitos lain: "New ATH = peluang yang terlewat."

Tidak benar. Banyak pemenang terbesar menghabiskan berbulan-bulan membangun basis, mencerna keuntungan, menunggu pendapatan menyusul—lalu menembus ke level tertinggi baru dan melaju bertahun-tahun. Mereka tidak membuat satu rekor baru lalu berhenti. Mereka mencetak rekor tertinggi baru, konsolidasi, membangun basis lain, dan terus naik ketika pendapatan dan institusi ikut serta.

Ini tidak berarti membeli setiap ATH secara membabi buta. Ada perbedaan besar antara mengejar saham yang sudah terlalu jauh (extended) dan membeli perusahaan yang kuat yang menembus breakout dari basis yang benar, dengan pertumbuhan laba yang meledak dan dukungan institusional.

Tertinggi baru ≠ mahal.
Terendah baru ≠ murah.

Kadang saham mencetak tertinggi baru karena alasan. Kadang saham mencetak terendah baru karena alasan.

Pasar menghargai kekuatan dan menghukum kelemahan jauh lebih lama daripada yang kebanyakan orang perkirakan.