Biro Urusan Umum Jepang pada Jumat sore merilis data inflasi terbaru. Pada bulan September, CPI inti Tokyo naik 2,7% secara tahunan, tidak hanya jauh di atas nilai sebelumnya 1,8%, tetapi juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,3%. Seiring efek subsidi sementara pemerintah mereda, biaya pengolahan makanan dan akomodasi terlihat jelas meningkat, sehingga tekanan harga kini berbalik menguat secara menyeluruh.

Data ini sangat penting bagi Bank Sentral Jepang. Sebagai indikator utama inflasi nasional, CPI inti Tokyo kembali melaju naik, yang menguatkan kekhawatiran bahwa inflasi mungkin terus bertahan lebih tinggi dari target 2%. Ini tentu menambah tekanan pengetatan lanjutan bagi Bank Sentral Jepang, yang baru saja menaikkan suku bunga pada bulan lalu.

Pada level makro, selisih suku bunga Jepang-AS dan lanskap likuiditas global sedang mengalami perubahan yang halus. Menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga yen berpotensi terus menekan transaksi arbitrase lintas mata uang, sekaligus mendorong penilaian ulang (repricing) yang saling terhubung pada imbal hasil obligasi global.

Bagi pasar kripto, potensi pengetatan kebijakan moneter Jepang kerap memengaruhi keran likuiditas global. Dalam jangka pendek, risiko de-leveraging dan kebutuhan penyeimbangan ulang dana berjalan bersamaan, sehingga indeks pasar besar kemungkinan akan mempertahankan pola pergerakan sideways dengan sentimen menunggu.$BTC

#BOJ #Inflation #MacroEconomics