Robot trading AI yang benar-benar ingin diguncang mungkin bukan investor ritel, melainkan seluruh rantai perdagangan.
Pada 30 September, CEO ETF Store, Nate Geraci, menyatakan bahwa AI dengan cepat memperkecil kesenjangan informasi antara investor ritel dan institusi. Informasi keuangan semakin “dikomersialkan”, yang dapat terus melemahkan keunggulan informasi manajer dana aktif di masa lalu.
Namun dampak AI terhadap berbagai pihak sama sekali berbeda:
Lapisan pertama, investor ritel: kesenjangan informasi menyempit, tetapi agen AI dapat dengan mudah memperbesar frekuensi perdagangan—mengejar harga dan menjual ketika harga turun—alat yang lebih kuat tidak berarti imbal hasil juga lebih tinggi.
Lapisan kedua, trader profesional/kuantitatif: AI menurunkan biaya untuk riset, pemrosesan informasi, dan pengembangan strategi; persaingan akan bergeser dari “siapa yang punya informasi” menjadi “siapa model dan eksekusinya lebih cepat”.
Lapisan ketiga, dana aktif: jika AI membuat informasi publik semakin mudah untuk diberi harga, maka parit pertahanan tradisional “tim riset + keunggulan informasi” akan semakin tertekan. Pengelolaan aktif perlu membuktikan seberapa banyak imbal hasil berlebih (excess return) yang masih bisa diciptakannya.
Lapisan keempat, seluruh pasar: ketika semakin banyak AI membaca informasi secara bersamaan, menghasilkan strategi, dan mengeksekusi perdagangan, pasar mungkin menjadi lebih efisien, tetapi juga bisa muncul perdagangan yang semakin seragam dan pembesaran volatilitas yang lebih cepat.
Jadi perubahan yang sesungguhnya bukan sekadar “AI menggantikan investor ritel”, melainkan: AI sedang mengalihkan persaingan perdagangan dari kesenjangan informasi ke kesenjangan model, kesenjangan eksekusi, dan kesenjangan manajemen risiko.
Menurut Anda, setelah AI semakin luas, yang pertama hilang adalah “keunggulan informasi”, atau “keunggulan trading manual”?