🤲 Aku mengatakan ucapanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah
Ketika aku menulis tentang kedermawanan, tentang kebaikan, tentang ksatria/kehormatan, tentang adab dan akhlak, aku tidak menemukan siapa pun yang membalas atau berkata: "Kamu maksud siapa?" atau "Orang itu siapa?" Bahkan tak ada yang memberi komentar pada unggahan itu sama sekali. Seolah-olah membicarakan kebajikan sudah menjadi hal yang biasa, tak layak dihentikan. Atau seolah orang-orang sudah terbiasa dengan pujian sampai tidak lagi menggerakkan satu pun diam mereka.
Namun ketika aku menulis tentang sedikitnya adab, tentang orang-orang yang satu-satunya pekerjaan mereka di platform ini adalah mengatur irama di antara manusia, fitnah, menggunjing, dan perasaan minder, datanglah seseorang dari atas kepalanya dengan debu/tanah, lalu ia bertanya, membalas, atau membongkar dirinya sendiri—padahal aku tidak menyebut nama siapa pun, baik dekat maupun jauh.
Anehnya, aku tidak menyebut nama, tidak juga menyinggung siapa pun secara spesifik. Tapi tetap saja ada orang yang mengira kata-kataku tentang dia; lalu ia membalas, berkomentar, dan menyerang. Seolah-olah ia mengaku sebelum ada orang menuduhnya. Seolah-olah nuraninya mendahului, membuatnya menuju jendela sebelum lidahnya sempat bicara.
Fenomena ini mengungkap sesuatu yang penting: orang tidak bergerak kecuali jika mereka tersentuh oleh luka. Kebajikan tidak menarik perhatian bagi orang yang telah kehilangannya; sedangkan kekurangan membangunkan mereka yang memilikinya. Orang yang merasa dirinya kurang akan melihat setiap kata yang lewat sebagai anak panah yang ditujukan padanya, bahkan jika tak ada yang berniat melemparkan itu.
Karena itu, diam atas tulisan tentang kebajikan menjadi tanda bahwa kebaikan sudah dianggap biasa, atau bahwa orang-orang tidak lagi melihat di dalamnya sesuatu yang pantas dipuji. Dan keributan seputar tulisan tentang kekurangan menjadi bukti bahwa pihak yang dimaksud mengenali diri mereka dengan baik, meski lidah mereka menyangkal.
Pada akhirnya, aku tidak peduli siapa yang berkomentar dan siapa yang diam. Yang penting aku menulis apa yang aku yakini, dan mengatakan apa yang benar-benar kulihat. Sebab perkataan itu seperti cermin: siapa pun yang melihatnya akan melihat dirinya sendiri, apakah ia menyukai apa yang ia lihat atau tidak menyukainya.
