Saya kehilangan gaji tiga bulan di NMR
Dini hari jam 02.30, cahaya biru dari layar ponsel menyinari wajah Xiao Chen. Ia menatap grafik K-line, matanya penuh urat merah, namun sudut bibirnya terangkat dengan senyum penuh kemenangan.
NMR anjlok dari lima belas hingga sembilan tujuh. Ia membuka posisi short dengan leverage dua puluh kali pada harga 10,2. Di akun ada delapan puluh ribu, gaji tiga bulan ditambah uang yang ia pinjam dari aplikasi cicilan.
"Mata uang ini sudah mati. Besok pasti tembus sembilan." Ia mengetik di grup trading, jari-jarinya bergerak cepat.
Beberapa rekan di grup ikut mengiyakan. Mereka semua bilang proyek Numeraire sudah lama tak dilirik, dan saat turun tak ada dasar.
Xiao Chen menambah satu lot lagi. Pada saat itu, ia merasa dirinya jenius.
Saat harga menyentuh 9,7, floating profitnya sudah berlipat lebih dari dua. Ia tidak menutup posisi; malah menambah keuntungan itu ke dalam posisi. Di dalam pikirannya ia menghitung: kalau NMR jatuh sampai delapan, ia bisa meraup hampir dua ratus ribu. Dua ratus ribu—padahal per bulan ia hanya bisa dapat dua puluh lima ribu.
Pukul 03.07, ia pergi ke toilet. Ketika kembali, ponselnya memunculkan pesan: dari Lao Wang di grup trading—"NMR naik, gas cepat ke angka 13!"
Tangan Xiao Chen mulai gemetar. Ia menyegarkan halaman, grafik K-line seperti sebilah pedang yang menusuk lurus ke atas. 12,5; 13; 13,7. Short-nya yang semula untung berubah menjadi rugi, hanya butuh kurang dari empat puluh menit.
Ia buru-buru dan panik menekan tombol close. Namun sistem memberi peringatan: margin tidak cukup. Ia menatap harga melonjak sampai 14, jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Pasti ini cuma tusukan jarum!" gumamnya, jari-jarinya terus mengklik dengan panik di layar.
14,5. Posisi miliknya sudah terseret forced liquidation separuh. Sisa separuhnya pun lenyap saat harga menyentuh 15.
Saldo akun: nol.
Xiao Chen melempar ponselnya ke tempat tidur, lalu menatap langit-langit. Ruangan terasa sunyi mencekam, hanya terdengar dengung dari AC. Delapan puluh ribu lenyap. Bukan habis perlahan seperti kejatuhan yang pelan-pelan merugi—melainkan menguap dalam empat puluh menit, laksana pasir yang lolos dari celah-celah jari.
Ia teringat ucapan pacarnya sebelum ia membuka posisi: "Kamu jangan berjudi lagi, kita kumpulin uang buat bayar DP rumah." Saat itu ia bilang, ini bukan berjudi, ini trading.
Sekarang ia tahu: trading dengan leverage dua puluh kali tak ada bedanya dengan berjudi.
Saat fajar mulai menjelang, Xiao Chen membuka catatan dan menuliskan satu kalimat: Jangan pernah bertaruh ketika kamu sudah tak sanggup kalah.
Lalu ia mematikan ponselnya, dan untuk pertama kalinya ia merasa sinar matahari dini hari terasa cukup menyilaukan.
#NMR #合约爆仓 #cryptocurrency
Dini hari jam 02.30, cahaya biru dari layar ponsel menyinari wajah Xiao Chen. Ia menatap grafik K-line, matanya penuh urat merah, namun sudut bibirnya terangkat dengan senyum penuh kemenangan.
NMR anjlok dari lima belas hingga sembilan tujuh. Ia membuka posisi short dengan leverage dua puluh kali pada harga 10,2. Di akun ada delapan puluh ribu, gaji tiga bulan ditambah uang yang ia pinjam dari aplikasi cicilan.
"Mata uang ini sudah mati. Besok pasti tembus sembilan." Ia mengetik di grup trading, jari-jarinya bergerak cepat.
Beberapa rekan di grup ikut mengiyakan. Mereka semua bilang proyek Numeraire sudah lama tak dilirik, dan saat turun tak ada dasar.
Xiao Chen menambah satu lot lagi. Pada saat itu, ia merasa dirinya jenius.
Saat harga menyentuh 9,7, floating profitnya sudah berlipat lebih dari dua. Ia tidak menutup posisi; malah menambah keuntungan itu ke dalam posisi. Di dalam pikirannya ia menghitung: kalau NMR jatuh sampai delapan, ia bisa meraup hampir dua ratus ribu. Dua ratus ribu—padahal per bulan ia hanya bisa dapat dua puluh lima ribu.
Pukul 03.07, ia pergi ke toilet. Ketika kembali, ponselnya memunculkan pesan: dari Lao Wang di grup trading—"NMR naik, gas cepat ke angka 13!"
Tangan Xiao Chen mulai gemetar. Ia menyegarkan halaman, grafik K-line seperti sebilah pedang yang menusuk lurus ke atas. 12,5; 13; 13,7. Short-nya yang semula untung berubah menjadi rugi, hanya butuh kurang dari empat puluh menit.
Ia buru-buru dan panik menekan tombol close. Namun sistem memberi peringatan: margin tidak cukup. Ia menatap harga melonjak sampai 14, jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Pasti ini cuma tusukan jarum!" gumamnya, jari-jarinya terus mengklik dengan panik di layar.
14,5. Posisi miliknya sudah terseret forced liquidation separuh. Sisa separuhnya pun lenyap saat harga menyentuh 15.
Saldo akun: nol.
Xiao Chen melempar ponselnya ke tempat tidur, lalu menatap langit-langit. Ruangan terasa sunyi mencekam, hanya terdengar dengung dari AC. Delapan puluh ribu lenyap. Bukan habis perlahan seperti kejatuhan yang pelan-pelan merugi—melainkan menguap dalam empat puluh menit, laksana pasir yang lolos dari celah-celah jari.
Ia teringat ucapan pacarnya sebelum ia membuka posisi: "Kamu jangan berjudi lagi, kita kumpulin uang buat bayar DP rumah." Saat itu ia bilang, ini bukan berjudi, ini trading.
Sekarang ia tahu: trading dengan leverage dua puluh kali tak ada bedanya dengan berjudi.
Saat fajar mulai menjelang, Xiao Chen membuka catatan dan menuliskan satu kalimat: Jangan pernah bertaruh ketika kamu sudah tak sanggup kalah.
Lalu ia mematikan ponselnya, dan untuk pertama kalinya ia merasa sinar matahari dini hari terasa cukup menyilaukan.
#NMR #合约爆仓 #cryptocurrency