#BIS
Lebih $USDT tidak berarti lebih DeFi: temuan dari studi baru BIS 📉🪙

Bank untuk Penyelesaian Internasional (BIS) telah merilis makalah kerja baru yang menantang keyakinan umum bahwa peningkatan penerbitan stablecoin secara otomatis menandakan masuknya modal ke keuangan terdesentralisasi (DeFi).

🎯 Poin-poin utama temuan studi:
➡️ #Ethereum : Meski secara keseluruhan penerbitan USDT meningkat, porsi stablecoin yang disimpan dalam smart contract jaringan justru menurun. Jika pada 2021–2022 sempat melampaui 20%, kemudian berada di kisaran 15% hingga 20%, pada akhir 2024 turun menjadi 10–15% (~$10–15 miliar). Token yang baru diterbitkan terutama berakhir di dompet standar (eksternal).
➡️ #Tron : Sepanjang sebagian besar periode studi, porsi USDT yang dipegang dalam smart contract bertahan di sekitar 1% ($1 miliar atau kurang). Mayoritas besar token di jaringan ini disimpan di luar protokol DeFi.

🔥 Mengapa ini penting?
1️⃣ Keterbatasan jenis akun: Hanya karena token ada di smart contract atau dompet standar, tidak berarti kita tahu tujuan sebenarnya. Misalnya, sebuah smart contract bisa jadi hanya jembatan (bridge) atau layanan kustodian, bukan protokol pinjaman DeFi.
2️⃣ Metodologi itu penting: Berbeda dengan metrik TVL (Total Value Locked)—di mana token yang sama dapat dihitung berkali-kali di berbagai protokol—BMR melacak perpindahan aktual dan saldo token itu sendiri.
3️⃣ Stablecoin ≠ permintaan terhadap ETH atau TRX: Peningkatan pasokan USDT tidak dengan sendirinya menunjukkan lonjakan aktivitas DeFi atau meningkatnya permintaan untuk token asli blockchain tersebut.

⚠️ Kesimpulan: Volume USDT saat ini memang mengesankan ($73,3 miliar di Ethereum dan $92,5 miliar di Tron, menurut DefiLlama); namun, kenaikan penerbitan yang sederhana tidak lagi bisa disetarakan dengan pertumbuhan otomatis ekosistem DeFi.