Belum terlihat meredanya dampak situasi geopolitik AS-Iran terhadap kawasan, harga kontrak minyak mentah Brent naik 2,3% dalam satu hari menjadi 106,7 dolar AS per barel. Berdasarkan data terbaru dari London Stock Exchange Group (LSEG), lonjakan harga energi secara langsung mendorong ekspektasi inflasi, sehingga perkiraan probabilitas pasar bahwa Bank Sentral Inggris akan menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan bulan November meningkat tajam dari 62% seminggu sebelumnya menjadi 81%.

Perubahan drastis ini menunjukkan bahwa risiko inflasi putaran kedua kini menjadi ancaman yang nyata, sekaligus sepenuhnya mematahkan ekspektasi optimistis sebelumnya bahwa bank sentral akan segera beralih ke kebijakan pelonggaran. Guncangan dari sisi penawaran akibat konflik geopolitik memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, sehingga bank-bank sentral utama terpaksa kembali memperketat sikap kebijakan moneter.

Kenaikan tajam harga komoditas dan memanasnya ekspektasi kenaikan suku bunga akan semakin mendorong imbal hasil obligasi pemerintah global, meningkatkan biaya pinjaman berdaulat, serta mengencangkan likuiditas finansial secara keseluruhan. Dolar AS dan aset safe haven utama akan memperoleh dukungan, sementara penilaian lintas aset menghadapi gelombang tekanan baru dan risiko penurunan (downward adjustment).

Ekspektasi likuiditas yang kembali mengencang memberi tekanan yang jelas pada aset kripto yang diwakili oleh $BTC . Di bawah bayang-bayang stagflasi makro dan suku bunga yang bertahan tinggi dalam jangka panjang, arus masuk dana ke aset berisiko kemungkinan akan terhambat secara signifikan, sehingga investor perlu mewaspadai risiko koreksi valuasi. 📉

#CrudeOil #BankOfEngland #Inflation #MacroEconomy