Sejujurnya, banyak orang tak akan hidup sampai usia untuk menerima pensiun—lalu kenapa masih perlu membayar asuransi sosial (sosial security)?

Asuransi sosial pada dasarnya juga semacam penipuan, apalagi bagi banyak pekerja muda yang saat muda makan takeout, makanan sampah, begadang, minum alkohol, merokok, tekanan hidup tinggi, dan cemas terus-menerus.

Bahkan tak mungkin hidup sampai usia menerima pensiun, jadi untuk apa membayar asuransi sosial?

Yang paling penting, usia pensiun masih diperpanjang. Sudah bayar begitu lama, apakah benar bisa menerima pensiun selama 10 tahun lebih?

Lebih baik membeli Bitcoin. Hidup ini sekali, nikmati selagi sempat.

Terutama di dalam negeri, perbedaan seperti ini akan lebih terasa. Untuk pekerjaan di lingkungan institusi pemerintah, misalnya ada dua hari libur setiap minggu, jam kerja delapan jam, serta tunjangan dan jaminan pensiun relatif lebih lengkap. Tapi juga ada banyak orang di luar sistem, yang sepanjang tahun terus bekerja.

Saat muda, menukar waktu dengan uang, menukar tubuh dengan penghasilan, lalu ditambah lagi tekanan hidup, cicilan rumah, tanggung jawab keluarga, dan kecemasan jangka panjang.

Ketika benar-benar sampai masa yang disebut “usia tua”, sisa tenaga tubuh masih berapa?

Di sinilah sisi paling realistis dari masalah pensiun.

Banyak orang selalu menghitung: “Saya membayar asuransi sosial berapa, setelah pensiun bisa dapat pensiun berapa?”

Tapi jarang yang menghitung: ketika muda, demi jaminan ini, berapa banyak waktu, kesehatan, dan kualitas hidup yang telah dikorbankan?

Bahkan sampai usia tua, kalau dana pensiun dan tabungan tidak cukup, masih mungkin harus terus bekerja.

Jepang bisa menunjukkan fenomena seperti ini: beberapa lansia setelah pensiun masih memilih atau terpaksa bekerja di usia lebih dari 80 tahun, misalnya pekerjaan seperti membersihkan atau layanan.

$BTC $ETH