Logam bergerak berlawanan arah karena emas menghadapi tekanan saat menghadapi yield yang meningkat, sementara tembaga dan seng tetap didukung oleh ketatnya fisik
🟡 Emas turun sekitar 2–2,3% selama 21–25 Sep menjadi sekitar $4.280–$4.288/oz, sementara perak melemah kira-kira 4%. Tekanan utama berasal dari imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang naik melewati 5% dan DXY bertahan di sekitar 101, sehingga meningkatkan opportunity cost aset non-yielding meski risiko Timur Tengah masih berlanjut.
📉 Pergerakan ini tampaknya lebih seperti penyesuaian ulang ekspektasi suku bunga ketimbang keluarnya dana secara luas dari logam mulia. Posisi spekulatif emas masih sangat net long, sementara kepemilikan GLD hanya turun secara moderat pada 24 Sep.
🔶 Tembaga justru bergerak ke arah sebaliknya. Tembaga LME 3-bulan bertahan di sekitar $14.620–$14.630/t, sementara COMEX sempat menyentuh sekitar $15.060/t. Backwardation cash-to-3-month melebar menjadi kira-kira $125/t, menunjukkan bahwa logam yang segera tersedia masih tetap mendapat premi kuat meski dolar menguat.
⚙️ Seng juga tetap relatif ketat, dengan backwardation di sekitar $106/t. Biaya treatment yang sangat negatif di China dan peninjauan Nyrstar atas smelter Budel menambah kekhawatiran pasokan. Nikel melemah karena persediaan terus bertambah.
🏗️ Bijih besi tidak mengikuti kenaikan tembaga. Harga tetap berada di sekitar CNY 713–715/t di Dalian dan $95–96/t di SGX, sementara persediaan pelabuhan China naik hingga sekitar 145,45 juta ton. Restocking sebelum Golden Week membantu, tetapi marjin baja yang lemah dan pemeliharaan blast furnace membatasi permintaan.
📌 Ini bukan pekan yang seragam untuk menurunkan risiko pada komoditas. Logam mulia masih terutama digerakkan oleh yield dan dolar, sementara tembaga dan seng masih didukung oleh ketatnya fisik. US PCE akan menjadi kunci bagi emas dan perak, sementara permintaan pasca-libur di China akan lebih berpengaruh untuk tembaga dan bijih besi.
#Metals $XAU $XAG $COPPER
🟡 Emas turun sekitar 2–2,3% selama 21–25 Sep menjadi sekitar $4.280–$4.288/oz, sementara perak melemah kira-kira 4%. Tekanan utama berasal dari imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang naik melewati 5% dan DXY bertahan di sekitar 101, sehingga meningkatkan opportunity cost aset non-yielding meski risiko Timur Tengah masih berlanjut.
📉 Pergerakan ini tampaknya lebih seperti penyesuaian ulang ekspektasi suku bunga ketimbang keluarnya dana secara luas dari logam mulia. Posisi spekulatif emas masih sangat net long, sementara kepemilikan GLD hanya turun secara moderat pada 24 Sep.
🔶 Tembaga justru bergerak ke arah sebaliknya. Tembaga LME 3-bulan bertahan di sekitar $14.620–$14.630/t, sementara COMEX sempat menyentuh sekitar $15.060/t. Backwardation cash-to-3-month melebar menjadi kira-kira $125/t, menunjukkan bahwa logam yang segera tersedia masih tetap mendapat premi kuat meski dolar menguat.
⚙️ Seng juga tetap relatif ketat, dengan backwardation di sekitar $106/t. Biaya treatment yang sangat negatif di China dan peninjauan Nyrstar atas smelter Budel menambah kekhawatiran pasokan. Nikel melemah karena persediaan terus bertambah.
🏗️ Bijih besi tidak mengikuti kenaikan tembaga. Harga tetap berada di sekitar CNY 713–715/t di Dalian dan $95–96/t di SGX, sementara persediaan pelabuhan China naik hingga sekitar 145,45 juta ton. Restocking sebelum Golden Week membantu, tetapi marjin baja yang lemah dan pemeliharaan blast furnace membatasi permintaan.
📌 Ini bukan pekan yang seragam untuk menurunkan risiko pada komoditas. Logam mulia masih terutama digerakkan oleh yield dan dolar, sementara tembaga dan seng masih didukung oleh ketatnya fisik. US PCE akan menjadi kunci bagi emas dan perak, sementara permintaan pasca-libur di China akan lebih berpengaruh untuk tembaga dan bijih besi.
#Metals $XAU $XAG $COPPER
