Banyak orang pertama kali benar-benar “kecanduan” dalam trading biasanya dimulai dari satu keuntungan besar yang sama sekali di luar dugaan.
Menaruh beberapa ribu U, dalam setengah jam angka akun melonjak menjadi puluhan ribu U, mata terus menatap layar saat kurva profit naik, dan secara natural muncul pikiran: dengan ritme seperti ini, sepertinya membalik keadaan tidak sesulit itu.
Lalu segera terlintas soal rolling—pada dasarnya, keuntungan yang sudah didapat diputar lagi untuk diinvestasikan, sehingga modal mengikuti tren dan terus membesar seiring waktu.
Saat pasar sedang menguntungkan, sensasinya memang luar biasa. Tapi justru bahaya paling besar tersembunyi di sinilah. Setelah beberapa kali berhasil berturut-turut, orang mudah tanpa sadar jadi terlalu percaya diri. Sekali untung, menganggap itu keberuntungan; dua kali untung, merasa sudah menemukan metodenya; tiga kali untung, mulai merasa dirinya benar-benar sudah memahami pasar.
Setelah itu, posisi makin lama makin berat, profit yang masih mengambang makin sulit dilepas, sampai suatu saat terjadi penarikan balik (drawdown) yang datang mendadak dan menghantam—uang yang susah payah didapat dari beberapa transaksi sebelumnya, bisa saja dalam hitungan jam langsung hilang lagi.
Jadi sekarang saya memegang prinsip tegas soal rolling: selamat dulu, baru bicara soal memperbesar.
Saat baru masuk, hanya gunakan posisi uji coba yang sangat kecil; jika arahnya ternyata salah, langsung keluar. Setelah tren benar-benar terkonfirmasi, barulah berani menambah posisi secara bertahap menggunakan profit mengambang yang sudah “masuk kantong”. Saya tidak akan pernah memakai modal utama untuk menutup kerugian.
Kalau akun sudah mencapai tahap tertentu, saya juga akan secara aktif mengambil sebagian profit. Bukan karena saya tidak yakin dengan kelanjutan pergerakan pasar, melainkan karena saya tidak ingin hasil yang sudah saya kantongi sebelumnya kembali diberikan utuh kepada pasar.
Ada satu hal lagi yang sering diabaikan oleh banyak pemula: lawan paling mematikan dari rolling adalah market yang berfluktuasi (sideways/choppy).
Dalam tren satu arah, posisi bisa diangkat pelan-pelan mengikuti pergerakan. Namun begitu pasar mulai menyapu naik-turun bolak-balik, memaksa diri menambah posisi justru membuat cost posisi dan emosi trading lepas kendali sepenuhnya. Semakin lama saya merasa, orang yang benar-benar hebat dalam trading tidak pernah mereka yang selalu berani bertaruh dengan posisi besar terus-menerus, melainkan yang
Menaruh beberapa ribu U, dalam setengah jam angka akun melonjak menjadi puluhan ribu U, mata terus menatap layar saat kurva profit naik, dan secara natural muncul pikiran: dengan ritme seperti ini, sepertinya membalik keadaan tidak sesulit itu.
Lalu segera terlintas soal rolling—pada dasarnya, keuntungan yang sudah didapat diputar lagi untuk diinvestasikan, sehingga modal mengikuti tren dan terus membesar seiring waktu.
Saat pasar sedang menguntungkan, sensasinya memang luar biasa. Tapi justru bahaya paling besar tersembunyi di sinilah. Setelah beberapa kali berhasil berturut-turut, orang mudah tanpa sadar jadi terlalu percaya diri. Sekali untung, menganggap itu keberuntungan; dua kali untung, merasa sudah menemukan metodenya; tiga kali untung, mulai merasa dirinya benar-benar sudah memahami pasar.
Setelah itu, posisi makin lama makin berat, profit yang masih mengambang makin sulit dilepas, sampai suatu saat terjadi penarikan balik (drawdown) yang datang mendadak dan menghantam—uang yang susah payah didapat dari beberapa transaksi sebelumnya, bisa saja dalam hitungan jam langsung hilang lagi.
Jadi sekarang saya memegang prinsip tegas soal rolling: selamat dulu, baru bicara soal memperbesar.
Saat baru masuk, hanya gunakan posisi uji coba yang sangat kecil; jika arahnya ternyata salah, langsung keluar. Setelah tren benar-benar terkonfirmasi, barulah berani menambah posisi secara bertahap menggunakan profit mengambang yang sudah “masuk kantong”. Saya tidak akan pernah memakai modal utama untuk menutup kerugian.
Kalau akun sudah mencapai tahap tertentu, saya juga akan secara aktif mengambil sebagian profit. Bukan karena saya tidak yakin dengan kelanjutan pergerakan pasar, melainkan karena saya tidak ingin hasil yang sudah saya kantongi sebelumnya kembali diberikan utuh kepada pasar.
Ada satu hal lagi yang sering diabaikan oleh banyak pemula: lawan paling mematikan dari rolling adalah market yang berfluktuasi (sideways/choppy).
Dalam tren satu arah, posisi bisa diangkat pelan-pelan mengikuti pergerakan. Namun begitu pasar mulai menyapu naik-turun bolak-balik, memaksa diri menambah posisi justru membuat cost posisi dan emosi trading lepas kendali sepenuhnya. Semakin lama saya merasa, orang yang benar-benar hebat dalam trading tidak pernah mereka yang selalu berani bertaruh dengan posisi besar terus-menerus, melainkan yang
