Di kota kecil, anak muda mulai berbagi mantan. Acara kencan buta “berbagi mantan” terdengar seperti lelucon, padahal itu dipaksa oleh lingkaran yang terlalu sempit.

Perbandingan pria dan wanita tidak seimbang: jumlah pria usia menikah lebih banyak dari wanita lebih dari sepuluh juta. Setelah sampai di kota kecil, anak laki-laki yang berkualitas justru pergi ke kota besar. Akhirnya, perbandingan pria dan wanita bisa mencapai 10 banding 1. Orang asing bahkan tidak bisa diundang keluar untuk bertemu—akhirnya hanya bisa mencari di lingkaran kenalan.

Beritanya tidak bisa disembunyikan: kota kecil itu cuma segitu-saja. Teman sekolah dan rekan kerja semuanya saling kenal. Kamu baru putus bulan lalu, bulan depan orang tua sudah tahu saat bermain mahjong. Sebelum kencan buta, kamu bahkan harus mengecek dulu apakah ada kenalan bersama, supaya tidak canggung.

Saling mengenal berubah jadi barang bekas: awalnya semua orang mengincar karena sudah saling tahu latar belakang. Tapi hasilnya, riwayat percintaan jadi informasi publik. Menolak seseorang, seluruh lingkaran langsung tahu. Ruang pilihanmu sudah lama diberi harga lebih dulu.

Jangan cuma menertawakan anak muda yang tidak pandai menjalin hubungan. Ketika sebuah tempat bahkan tidak bisa menghadirkan pasangan dari kalangan orang asing, yang perlu dipikirkan adalah apakah wadah ini masih bisa menampung kebutuhan dasar anak muda.