Banyak orang bilang bahwa kita tidak bisa menghasilkan uang di luar “wawasan” (kognisi). Sebenarnya kebenarannya lebih menakutkan:‌ manusia bahkan tidak bisa menghasilkan uang di luar “qi dan darah” (energi dan vitalitas).‌

Kita harus benar-benar memperhatikan tubuh kita. Banyak kali sakit itu bukan hal yang buruk; itu adalah cara tubuh berusaha sekuat tenaga menarikmu kembali dari jalur yang sudah terlalu terkuras. Kesadaran pada diri banyak orang dimulai dari sebuah penyakit.

Otak selamanya hanya akan menatap tujuan dan berlari ke depan. Agar bisa mencapai hasil, otak akan secara otomatis memblokir semua rasa tidak nyaman.

Orang yang sangat rasional dan sangat punya rasa arah biasanya paling mudah hidup menjadi mesin yang hanya terus melaju ke depan—mata hanya tertuju pada capaian, KPI, dan proyek berikutnya yang harus ditaklukkan—sering sepenuhnya lupa pada perasaan tubuhnya.

Ini bukan karena kehendak (kemauan) yang kuat, tapi karena lupa bahwa tubuh bukan mesin gerak abadi.

Setiap begadang yang kamu tahan, setiap acara minum yang kamu ‘tanggung’ dengan keras, setiap emosi yang kamu tekan—semuanya diam-diam menghabiskan qi dan darahmu. Ketika qi dan darah itu habis sedikit demi sedikit, tenaga, kemampuan menilai, dan daya dukungmu akan ikut runtuh. Bahkan saat kesempatan ada tepat di depanmu, kamu sama sekali tidak sanggup meraihnya.

Banyak orang sebenarnya memegang proyek yang bagus, sumber daya yang baik, tetapi pada akhirnya karena satu penyakit berat yang datang tiba-tiba, mereka harus menyerahkan semua uang yang sebelumnya mereka peroleh kepada rumah sakit—bahkan tidak ada kesempatan lagi untuk bangkit dari awal.

Inilah sebabnya mengapa dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menghasilkan uang selain qi dan darah. Wawasan bisa memberitahu kamu jalan mana yang harus ditempuh, tapi qi dan darah adalah dua kaki yang membuatmu bisa sampai ke tujuan.

Tanpa qi dan darah yang cukup menopangmu, sebesar apa pun kesempatan yang datang, kamu tidak akan bisa menyambutnya; sebanyak apa pun kekayaan yang kamu miliki, kamu juga tidak akan sanggup menjaganya.

Jangan tunggu sampai sakit kepala sampai tidak bisa menunduk, sampai tubuh benar-benar menyala lampu merah, baru ingat untuk berhenti dan melihat perasaanmu. Mulai hari ini, jangan cuma menatap tujuan dan berlari ke depan. Setiap hari luangkan beberapa menit saja—dengan tenang rasakan tubuhmu.

Tubuh tidak akan menipu. Rasa sakit yang membuatmu berhenti bukanlah musuh yang menghalangi kesuksesanmu, melainkan langit memberi kamu jalan hidup.

$MSFTB