Sederhanakan kerangka garis besar makro minggu ini. Perlu mengawasi tiga jalur: KTT AS-Tiongkok melihat pergerakan indeks dolar AS terhadap yuan, hubungan AS-Iran melihat tren harga minyak, dan ekspektasi inflasi melihat volatilitas harga minyak serta imbal hasil pasar obligasi

a. Menjelang KTT AS-Tiongkok, indeks dolar AS terhadap yuan turun, yuan menguat. Jika hasilnya lebih baik dari ekspektasi, indeks terus turun dan yuan terus menguat. Sebaliknya, jika hasilnya tidak memenuhi ekspektasi pasar sebelumnya, indeks memantul naik dan yuan melemah.

Tentu saja, ini hanya indikator pemantauan jangka pendek. Begitu KTT selesai, hubungan yuan dan dolar AS masih akan bergantung pada penyesuaian kebijakan dari berbagai pihak; di sini tidak akan dibahas lebih lanjut.

b. Hubungan AS-Iran melihat minyak mentah, yakni Brent dan WTI—ini tidak terlalu banyak yang bisa dijelaskan. Baik apakah AS-Iran dapat kembali ke perundingan, atau kondisi pengiriman aktual di selat, serta situasi pasokan energi, harga minyak akan menjadi cerminan yang paling langsung.

c. Kombinasi yang paling menarik: volatilitas harga minyak dan imbal hasil pasar obligasi. Jika Brent terus turun, tetapi imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun dan 10 tahun tidak ikut turun, ini berarti ada diferensiasi dalam penetapan harga inflasi oleh pasar. Harga energi tidak lagi menjadi inti utama penetapan harga inflasi; pasar mungkin mempertimbangkan inflasi domestik AS. Jika benar terjadi situasi seperti ini, artinya probabilitas kenaikan suku bunga (rate hike) masih akan meningkat.

Begitu harga minyak jatuh di bawah 95 dolar AS, pengamatan terhadap imbal hasil obligasi AS harus masuk ke fase yang paling penting. Jika imbal hasil tidak lagi turun, kekhawatiran inflasi akan bergeser dari harga minyak menuju kondisi ekonomi domestik AS.#AI股持续上涨还有哪些投资机会