S&P Global baru saja merilis Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk Inggris pada bulan September. Data menunjukkan PMI sektor jasa Inggris turun dari 52,5 pada Agustus menjadi 51,7. Penurunan ini tidak hanya mencatat level terendah baru dalam hampir tiga bulan, tetapi juga lebih rendah dari perkiraan pasar yang umumnya berada di angka 52,0. Sebagai penopang utama ekonomi Inggris, laju ekspansi sektor jasa terlihat jelas melambat. Pada kuartal ini, perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris hanya 0,1%, jauh di bawah 0,4% pada kuartal sebelumnya.
Serangkaian data ini mendapat perhatian luas karena sinyal khas “stagnasi disertai inflasi” (stagflasi) yang ditunjukkannya. Di satu sisi, akibat fluktuasi harga energi baru-baru ini dan gangguan situasi geopolitik, tekanan pada sisi biaya perusahaan Inggris melonjak; bahkan laju kenaikan harga di sektor jasa pun sempat menyentuh titik tertinggi baru dalam hampir empat bulan. Di sisi lain, momentum ekonomi secara keseluruhan justru melambat dengan cepat. Kepala ekonom S&P Global, Chris Williamson, menegaskan bahwa kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lemah dan inflasi yang kembali menguat secara serius melemahkan kemauan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja sekaligus menurunkan kepercayaan untuk melakukan ekspansi.
Jika menilik pasar keuangan makro secara keseluruhan, dilema semacam ini membuat kebijakan moneter Bank Sentral Inggris (BOE) berada dalam situasi yang serba sulit. Inflasi yang tetap tinggi dan persisten berarti bank sentral tidak mudah memulai penurunan suku bunga dalam skala besar secara cepat. Namun, mempertahankan biaya pinjaman yang tinggi dalam jangka panjang juga nyata-nyata merusak perekonomian riil. Dampaknya, nilai tukar poundsterling dan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris berfluktuasi hebat dalam waktu singkat; kepercayaan pasar modal global terhadap terjadinya soft landing bagi ekonomi non-AS pun ikut tertekan.
Bagi pasar kripto, kekhawatiran stagflasi di level makro biasanya membuat preferensi risiko cenderung lebih berhati-hati. Jika likuiditas tak kunjung mengalami pelonggaran yang benar-benar berarti, maka dalam waktu dekat aset kripto yang dipimpin oleh $BTC kemungkinan besar akan mengikuti pasar risiko tradisional dengan tetap berpotensi mengalami gejolak dalam rentang yang lebar. Ke mana aliran dana selanjutnya—lebih memilih aset safe haven atau kembali ke pertarungan likuiditas—masih bergantung pada arahan kebijakan lanjutan dari berbagai bank sentral di seluruh dunia.👀
#UKPMI #MacroEconomics #Stagflation #CryptoMarket
Serangkaian data ini mendapat perhatian luas karena sinyal khas “stagnasi disertai inflasi” (stagflasi) yang ditunjukkannya. Di satu sisi, akibat fluktuasi harga energi baru-baru ini dan gangguan situasi geopolitik, tekanan pada sisi biaya perusahaan Inggris melonjak; bahkan laju kenaikan harga di sektor jasa pun sempat menyentuh titik tertinggi baru dalam hampir empat bulan. Di sisi lain, momentum ekonomi secara keseluruhan justru melambat dengan cepat. Kepala ekonom S&P Global, Chris Williamson, menegaskan bahwa kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lemah dan inflasi yang kembali menguat secara serius melemahkan kemauan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja sekaligus menurunkan kepercayaan untuk melakukan ekspansi.
Jika menilik pasar keuangan makro secara keseluruhan, dilema semacam ini membuat kebijakan moneter Bank Sentral Inggris (BOE) berada dalam situasi yang serba sulit. Inflasi yang tetap tinggi dan persisten berarti bank sentral tidak mudah memulai penurunan suku bunga dalam skala besar secara cepat. Namun, mempertahankan biaya pinjaman yang tinggi dalam jangka panjang juga nyata-nyata merusak perekonomian riil. Dampaknya, nilai tukar poundsterling dan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris berfluktuasi hebat dalam waktu singkat; kepercayaan pasar modal global terhadap terjadinya soft landing bagi ekonomi non-AS pun ikut tertekan.
Bagi pasar kripto, kekhawatiran stagflasi di level makro biasanya membuat preferensi risiko cenderung lebih berhati-hati. Jika likuiditas tak kunjung mengalami pelonggaran yang benar-benar berarti, maka dalam waktu dekat aset kripto yang dipimpin oleh $BTC kemungkinan besar akan mengikuti pasar risiko tradisional dengan tetap berpotensi mengalami gejolak dalam rentang yang lebar. Ke mana aliran dana selanjutnya—lebih memilih aset safe haven atau kembali ke pertarungan likuiditas—masih bergantung pada arahan kebijakan lanjutan dari berbagai bank sentral di seluruh dunia.👀
#UKPMI #MacroEconomics #Stagflation #CryptoMarket