Beton modern bisa retak dalam puluhan tahun—lalu, atas dasar apa bangunan Romawi kuno mampu bertahan lebih dari dua ribu tahun?
Bagi siapa pun yang pernah ke Roma, pasti heran: kubah Pantheon tidak runtuh selama dua ribu tahun, sementara saluran air yang mengalir melewati sungai tetap kokoh. Tapi sekarang, jembatan berbahan beton umumnya hanya dirancang untuk usia pakai sekitar seratus tahun—puluhan tahun saja sudah mulai retak dan mengelupas. Lalu, formula apa yang sebenarnya dipakai orang dahulu?
Ternyata, di dalam beton Romawi terdapat semacam serpihan kecil berwarna putih. Selama seratus tahun terakhir, para peneliti mengira serpihan itu hanyalah cacat “karena pencampuran tidak merata”. Pada Januari 2023, tim MIT mempublikasikan artikel di *Science Advances* yang menyatakan: justru itulah “paket pertolongan pertama” untuk seluruh bangunan. Orang Romawi menggunakan proses pencampuran panas—kapur tohor langsung dicampur dengan pozzolan (abu vulkanik) dan air; saat reaksi berlangsung, timbul panas. Di dalam panci akan tersisa serpihan kapur yang belum sempat bereaksi sempurna.
Ketika beton retak, retakan justru memotong serpihan-serpihan itu. Begitu air hujan meresap, serpihan tersebut kembali mengkristal menjadi kalsium karbonat, seperti lem, yang menutup rapat celah retakan. Tim tersebut mereplikasi resepnya di laboratorium: beton gaya Romawi yang sengaja retak, lalu direndam air selama dua minggu—retakan pun seluruhnya sembuh, bahkan setitik air pun tidak bisa menembus. Sedangkan kelompok pembanding yang tidak mengandung kapur tohor, air terus mengalir.
Dengan kata lain, orang Romawi sengaja meninggalkan “cacat” agar bangunan bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kubah Pantheon memang benar sebagai kubah beton tanpa tulangan terbesar yang masih ada di dunia.
Saat berikutnya melewati gedung-gedung tua di kawasan lama, coba pikirkan: menurutmu, bangunan kita yang mana yang—dua ribu tahun lagi—masih sanggup berdiri di tempatnya?