Legenda Tanah Anjing MUBARAK: Aku Beli MUBARAK, lalu Hidupku Berubah

Pukul tiga dini hari, aku menatap layar ponsel, mataku sudah merah seperti kelinci.

Malam itu awalnya cuma iseng utak-atik halaman Binance. Aku lihat orang-orang sedang teriak-teriak soal MUBARAK—katanya itu koin meme politik, sebentar lagi bakal terbang. Waktu itu aku langsung mencibir, lagi-lagi tanah anjing, trik potong rumput. Tapi entah kenapa, aku tetap saja masuk ke halaman trading.

Harganya 0.032.

Aku berpikir, ah, toh cuma beberapa ratus yuan. Rugi juga paling cuma rugi. Jadi aku asal pasang market order, beli tiga puluh ribu MUBARAK, habis kurang dari seribu. Habis itu aku tidur—bahkan nggak pasang stop loss.

Keesokan paginya saat bangun, aku dibangunkan oleh bunyi notifikasi.

Begitu dibuka, MUBARAK naik dua puluh persen. Jantungku langsung berdebar kencang, jariku menggantung di atas tombol jual, ragu-ragu sampai tiga menit penuh. Jual saja, biar jadi untung yang nyata. Tapi di kepalaku ada suara lain, “Baru naik segitu? Kenapa buru-buru?”

Aku tidak menjual.

Seminggu berikutnya, MUBARAK seperti naik roket. 0.035, 0.038, 0.042. Setiap pagi hal pertama yang kulakukan adalah cek harga. Saat kerja, aku diam-diam mantengin chart; saat rapat, pikiranku melayang, isinya cuma angka yang terus bergerak.

Rekan kerjaku, Lao Zhang, melihatku tiap hari cuma bengong sambil senyum. Dia nyamperin dan tanya lagi-lagi aku ngapain. Aku tunjukkan sedikit portofolioku. Matanya hampir mau copot.

Kamu seribu itu jadi berapa?

Aku hitung: di harga 0.045, tiga puluh ribu keping, jadi seribu tiga ratus lima puluh. Hampir naik jadi dua kali.

Sore harinya, Lao Zhang langsung masuk dan beli lima ribu.

Lalu begini—hari ini. MUBARAK langsung ditarik sampai 0.047, puncaknya 0.04785. Sekarang nilai portofolioku sudah lebih dari seribu empat ratus. Kedengarannya nggak banyak, ya? Tapi coba pikir: seribu berubah jadi seribu empat ratus—tingkat pengembaliannya empat puluh persen. Buffett dalam setahun bisa menghasilkan berapa?

Tapi aku tahu, ini bukan titik akhir.

Aku menatap chart candlestick: ada satu candlestick hijau panjang. Terlintas kejadian tahun lalu aku kelewatan PEPE. Waktu itu PEPE naik dari 0.0000001 ke 0.000001, sepuluh kali lipat. Aku bahkan tidak beli satu pun. Waktu itu aku merasa koin meme itu sampah. Sekarang kupikir, sampah juga bisa berubah jadi emas.

Tapi Lao Zhang nggak seberuntung itu. Dia masuk di puncak 0.04785, hasilnya setelah koreksi langsung menghantam sampai 0.042. Rugi dua belas persen—dia sampai kesal dan mengumpat.

Aku tepuk bahunya dan bilang, saudara, koin meme memang begitu: saat naik jangan hidup-hidupin diri sendiri, saat turun juga jangan terlalu panik.

Malamnya pulang ke rumah, aku nyalakan komputer dan mulai meneliti komunitas MUBARAK. Di Discord ada puluhan ribu orang. Di Twitter tiap hari ada meme-meme baru. Aktivitas perbincangan di Binance Square masuk tiga besar. Aku tiba-tiba sadar: ini bukan cuma sebuah koin—ini sebuah gerakan.

Aku mematikan pengingat stop loss, dan mengubah waktu pegang dari trading jangka pendek jadi investasi jangka panjang.

Uang seribu bisa mengubah apa? Mungkin nggak mengubah apa-apa. Tapi itu mengajarkanku satu hal: di pasar ini, risiko terbesar bukan rugi, melainkan tidak berani mencoba.

Tentu saja, aku juga tahu besok bangun tidur mungkin semuanya kembali nol. Takdir koin meme memang begitu: datang cepat, pergi juga cepat.

Tapi setidaknya malam ini, aku bisa tidur sambil tertawa.

#MUBARAK #Meme币 #加密货币